
Bapanas Dorong Diversifikasi Pangan Lokal untuk Perkuat Ketahanan Pangan
Lanskap.id, Bogor – Badan Pangan Nasional (Bapanas) mendorong masyarakat memperluas konsumsi pangan lokal sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan. Pemanfaatan sumber pangan yang beragam dinilai dapat mengurangi ketergantungan pada satu jenis bahan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat daerah.
Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan Bapanas, Hamid Sangadji, mengatakan perubahan pola pikir menjadi salah satu langkah penting untuk memperluas pilihan konsumsi masyarakat. Menurutnya, sumber karbohidrat tidak harus selalu berasal dari nasi karena Indonesia memiliki beragam alternatif pangan lokal.
“Nasi betul menjadi pangan pokok kita, tapi setidaknya kenyang gak harus nasi. Kita masih punya alternatif sumber karbohidrat lainnya, ada umbi-umbian, ada sorgum, ada sukun, dan lain-lainnya,” kata Hamid dalam kegiatan Hari Pangan Sedunia (HPS) 2026 tingkat Kabupaten Bogor, Minggu (25/10/2026).
Indonesia memiliki kekayaan sumber pangan yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung diversifikasi konsumsi. Bapanas mencatat terdapat 77 jenis pangan sumber karbohidrat, 75 jenis protein hewani, 26 jenis kacang-kacangan, 386 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran, 110 jenis rempah dan bumbu, serta 40 jenis bahan minuman.
Potensi tersebut menjadi modal untuk mengembangkan pola konsumsi yang lebih beragam sekaligus mengoptimalkan sumber daya pangan sesuai karakteristik daerah.
Diversifikasi perlu diikuti pemenuhan gizi
Penganekaragaman pangan tidak hanya berkaitan dengan pilihan bahan makanan, tetapi juga kualitas konsumsi. Bapanas menekankan penerapan prinsip Beragam, Bergizi Seimbang, dan Aman (B2SA) agar masyarakat dapat menyusun menu yang lebih bervariasi sekaligus memperhatikan kebutuhan gizi.
Hamid mencontohkan kombinasi singkong atau jagung, ikan, sayur bayam, dan buah seperti pisang sebagai pilihan menu sehari-hari.
Untuk memperluas pemahaman masyarakat, Bapanas menjalankan program B2SA Goes to School, Pengembangan Usaha Pengolahan Pangan Lokal (PUPPL), dan Rumah Pangan B2SA.
Pada 2026, B2SA Goes to School menyasar sekolah di 83 kabupaten/kota dan 15 provinsi. Adapun Rumah Pangan B2SA menjangkau 72 lokasi di 68 kecamatan, 47 kabupaten/kota, dan 33 provinsi.
Program edukasi dan pemberdayaan tersebut ditujukan untuk memperkenalkan pola konsumsi yang lebih beragam sekaligus mendorong pemanfaatan bahan pangan lokal.
Didukung regulasi dan penguatan ekonomi daerah
Pengembangan diversifikasi pangan berbasis potensi lokal juga memiliki landasan kebijakan melalui Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2024 tentang Percepatan Penganekaragaman Pangan Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal.
Regulasi tersebut menjadi dasar bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk menjalankan strategi penganekaragaman pangan di tingkat nasional maupun daerah.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bogor, Andri Hadian, berharap peringatan HPS 2026 dapat memperkuat ketahanan pangan daerah dan mendorong pemanfaatan keragaman pangan lokal demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Ia juga menyoroti pentingnya menggerakkan ekonomi rakyat melalui pemanfaatan potensi pangan yang tersedia di Kabupaten Bogor.
Pengembangan pangan lokal berpotensi memberi manfaat bagi berbagai pihak, mulai dari petani hingga pelaku usaha pengolahan pangan. Karena itu, diversifikasi konsumsi perlu berjalan beriringan dengan edukasi masyarakat dan penguatan pemanfaatan sumber daya lokal.
Melalui penerapan B2SA dan pemanfaatan pangan lokal, upaya memperkuat ketahanan pangan diharapkan tidak hanya meningkatkan keragaman konsumsi, tetapi juga mendukung kegiatan ekonomi masyarakat di daerah. (Hnd)



