Investasi Berdampak Hadapi Kesenjangan Modal US$50,8 Miliar bagi Usaha Berkembang
3 mins read

Investasi Berdampak Hadapi Kesenjangan Modal US$50,8 Miliar bagi Usaha Berkembang

5 Kali Dibaca

Lanskap, Jakarta – Kesenjangan pembiayaan bagi usaha yang membutuhkan modal US$100.000 hingga US$2 juta diperkirakan mencapai US$50,8 miliar per tahun. Persoalan ini menjadi salah satu fokus Indonesia Impact Investment Summit 2026 yang mempertemukan investor, pelaku bisnis, dan pemerintah di Jakarta pada 21 Oktober 2026.

Forum yang diselenggarakan Indonesia Impact Alliance (IIA) bersama Kementerian PPN/Bappenas tersebut membahas peluang memperluas investasi berdampak bagi usaha yang mendukung penghidupan masyarakat dan kelestarian lingkungan.

Kelompok usaha yang membutuhkan modal dalam rentang tersebut kerap disebut missing middle. Berdasarkan pemetaan ekosistem IIA pada 2024, sebanyak 55% usaha yang disurvei membutuhkan pembiayaan dalam rentang itu. Namun, sebagian besar dana investasi berdampak dalam laporan tersebut menetapkan nilai investasi minimum sekitar US$1 juta.

Ketidaksesuaian antara kebutuhan usaha dan skema pendanaan menjadi salah satu hambatan bagi bisnis yang sedang berkembang.

Mempertemukan Kebutuhan Usaha dan Investor

Direktur Eksekutif IIA, Atika Benedikta, menilai pembiayaan perlu disesuaikan dengan cara usaha beroperasi dan bertumbuh. Penyedia modal lokal atau perantara pembiayaan dapat membantu menghubungkan pelaku usaha dengan investor yang memiliki skema pendanaan sesuai kebutuhan.

UMKM memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia. Dalam siaran pers penyelenggara, sektor ini disebut menyumbang sekitar 60% PDB dan menyerap sekitar 97% tenaga kerja.

Namun, skala usaha, tata kelola, dan kesiapan menerima investasi masih menjadi pertimbangan penting. COO Instellar Impact, Adisti Chandra, mengatakan kelulusan dari program akselerator tidak otomatis menjadikan usaha memenuhi kriteria investor.

Karena itu, koordinasi antara pengelola program pendampingan dan investor dibutuhkan untuk membantu usaha mempersiapkan kebutuhan pembiayaan serta menemukan sumber modal yang sesuai.

Investasi Inklusif dan Perspektif Gender

Perluasan akses pembiayaan juga berkaitan dengan peluang usaha yang dipimpin perempuan. Siaran pers IIA mengutip data BPS tahun 2025 yang menyebut usaha yang dipimpin perempuan mencakup 64,5% UMKM di Indonesia.

Investasi berperspektif gender mempertimbangkan aspek gender dalam pengambilan keputusan investasi. Pendekatan ini dapat membantu membuka akses pendanaan bagi usaha yang dipimpin perempuan dan memperluas partisipasi mereka dalam ekosistem bisnis.

Pembiayaan Berkelanjutan dan Peran Pemerintah

Bappenas menempatkan investasi berdampak sebagai salah satu instrumen yang dapat mendukung pembiayaan pembangunan berkelanjutan. Kebutuhan pembiayaan berkelanjutan Indonesia dalam siaran pers diperkirakan mencapai US$1,7 triliun hingga US$8,7 triliun.

Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Leonardo A. A. Teguh Sambodo, mengatakan mobilisasi modal swasta perlu diikuti upaya mempercepat manfaat pembangunan bagi masyarakat yang membutuhkan.

Pemerintah mendorong pembiayaan campuran, kolaborasi lintas sektor, dan mekanisme pengurangan risiko untuk mendukung peluang investasi di bidang transportasi ramah lingkungan, energi terbarukan, usaha mikro, kesehatan, dan pendidikan.

Chairperson of the GSG Impact Indonesia National Partner Advisory Board, Indra Darmawan, menegaskan bahwa investasi berdampak bertujuan menghasilkan keuntungan finansial sekaligus manfaat terukur bagi masyarakat dan lingkungan.

Melalui jaringan Global Steering Group (GSG) Impact dan IIA, investor internasional diharapkan dapat memahami karakteristik usaha Indonesia dan kebutuhan pembiayaannya. Setelah forum berlangsung, tindak lanjut melalui penilaian usaha dan pembahasan ketentuan pembiayaan menjadi tahap penting untuk mendorong kerja sama investasi yang konkret. (Hnd)