Flash Charging BYD Dorong Kebutuhan Infrastruktur Energi Baru, Utomo Charge+ Siapkan Kolaborasi
2 mins read

Flash Charging BYD Dorong Kebutuhan Infrastruktur Energi Baru, Utomo Charge+ Siapkan Kolaborasi

0 Kali Dibaca

lanskap.id, Jakarta – Pengembangan teknologi pengisian daya ultra cepat kendaraan listrik berpotensi mengubah kebutuhan infrastruktur energi di Indonesia. Melalui kolaborasi dengan BYD, Utomo Charge+ ikut mempersiapkan pengembangan jaringan pengisian daya yang mampu mengikuti perkembangan teknologi tersebut.

BYD memperkenalkan Flash Charging dengan kemampuan hingga 1.500 kW melalui satu konektor. Perusahaan tersebut mengklaim kendaraan kompatibel yang menggunakan Blade Battery generasi kedua dapat mengisi daya dari 10 persen hingga 70 persen dalam sekitar lima menit dan mencapai 97 persen dalam sembilan menit pada kondisi pengujian tertentu.

BYD juga menyampaikan target pengembangan hingga 100 fasilitas Flash Charging di Indonesia pada akhir 2026. Jika direalisasikan, pengembangan ini akan membutuhkan kesiapan jaringan listrik, sistem pengelolaan energi, lokasi fasilitas, dan investasi pendukung.

Infrastruktur Tak Cukup Hanya Menambah Charger

Bagi Utomo Charge+, kolaborasi dengan BYD menjadi bagian dari persiapan infrastruktur pengisian daya generasi berikutnya. Perusahaan ini mengembangkan jaringan SPKLU dan charging hub dengan memperhatikan lokasi strategis, integrasi kelistrikan, distribusi daya, dan keandalan operasional.

Business Unit Head Utomo Charge+, Mas Dwi Lestari, menilai perkembangan teknologi membuat operator perlu memperhatikan kualitas layanan, efisiensi energi, serta pengalaman pengguna, bukan hanya jumlah perangkat pengisian.

Teknologi berdaya tinggi juga membuka peluang integrasi dengan Battery Energy Storage System (BESS) dan sistem manajemen energi. Pendekatan tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi pasokan listrik dan kebutuhan setiap lokasi.

ASPELUSI Tekankan Kolaborasi dan Kelayakan Investasi

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pengisian Listrik Indonesia (ASPELUSI), Anthony Utomo, menilai Flash Charging berpotensi mengurangi kekhawatiran masyarakat terhadap waktu pengisian kendaraan listrik.

Namun, ia menegaskan bahwa teknologi baru perlu didukung kapasitas jaringan listrik, penyimpanan energi, serta model investasi yang berkelanjutan.

Anthony mendorong kolaborasi antara produsen kendaraan, operator SPKLU, penyedia teknologi, PLN, pemerintah, dan investor. Menurutnya, SPKLU perlu diposisikan sebagai bagian dari infrastruktur energi strategis yang direncanakan berdasarkan kebutuhan pengguna dan kelayakan ekonomi.

Kerangka regulasi yang adaptif juga dinilai penting untuk mendukung inovasi dan memperluas investasi pada fasilitas pengisian daya berkapasitas tinggi.

Peluang Baru bagi Ekosistem Kendaraan Listrik

Utomo Charge+ membuka peluang kemitraan dengan pemilik lahan, pengelola properti, kawasan komersial, perusahaan transportasi, dan investor untuk mengembangkan jaringan pengisian daya.

Mas Dwi Lestari menyebut pengembangan infrastruktur kendaraan listrik sebagai peluang kolaborasi jangka panjang. Sementara itu, Achmad Rosyadi dari Business Development Mega Dealer BYD Haka Auto berharap kerja sama dengan mitra infrastruktur dapat memperluas akses terhadap teknologi pengisian daya terbaru.

Pengembangan Flash Charging menunjukkan bahwa transisi kendaraan listrik tidak hanya bergantung pada teknologi baterai dan kendaraan. Kesiapan jaringan listrik, tata kelola energi, perencanaan lokasi, dan kelayakan investasi juga menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem yang dapat berkembang secara berkelanjutan. (Hnd)