Aplikasi Iblis: Horor Dimas Anggara tentang Teknologi, Kehilangan, dan Keamanan Perempuan
2 mins read

Aplikasi Iblis: Horor Dimas Anggara tentang Teknologi, Kehilangan, dan Keamanan Perempuan

1 Kali Dibaca

Lanskap, Jakarta – Teknologi yang menjanjikan hubungan dengan orang yang telah meninggal menjadi pintu masuk menuju teror dalam film Aplikasi Iblis. Film persembahan NIH Pictures ini mengangkat kisah kehilangan, manipulasi emosional, dan persoalan keamanan perempuan di lingkungan perkotaan.

Dijadwalkan tayang di bioskop pada 15 Oktober 2026, film ini menjadi debut Dimas Anggara sebagai sutradara di genre horor. Trailer dan poster resminya telah dirilis menjelang penayangan.

Cerita berpusat pada Arya, diperankan Junior Roberts, yang kehilangan kekasihnya, Laras, yang dimainkan Dosma Hazenbosch. Laras meninggal dunia setelah menjadi korban perampokan saat pulang kerja pada malam hari.

Tidak mampu menerima kenyataan tersebut, Arya mencoba menghubungi Laras melalui sebuah aplikasi misterius yang memungkinkan penggunanya terhubung dengan arwah orang yang telah meninggal.

Namun, keinginannya untuk kembali bersama sang kekasih justru membuka jalan menuju teror. Kehadiran Laras membawa Arya ke dalam situasi yang semakin berbahaya dan mendorongnya melakukan balas dendam.

Ketika teknologi bertemu kehilangan

Diproduseri R Dimas Aryanto, Aplikasi Iblis mengusung genre urban supernatural horror dengan memadukan horor, misteri, aksi, dan drama romantis.

Dimas Anggara melihat cinta dan kehilangan sebagai kondisi yang dapat membuat seseorang rentan dimanipulasi. Dalam film ini, kerinduan Arya terhadap Laras menjadi titik awal perubahan yang membawanya masuk ke situasi di luar kendalinya.

Pendekatan tersebut menempatkan teknologi bukan sekadar perangkat pendukung cerita, melainkan perantara yang menghubungkan kehidupan sehari-hari dengan sesuatu yang tidak dapat dijelaskan secara rasional.

Layar ponsel, jalanan malam, area parkir yang sepi, dan gedung kosong menjadi bagian dari lanskap horor yang dibangun film ini.

Selain Junior Roberts dan Dosma Hazenbosch, film tersebut turut dibintangi Aldo Irawan Putra, Aulia Deas, dan Ruth Marini, dengan penampilan spesial Della Dartyan.

Mengangkat kerentanan perempuan di ruang perkotaan

Di luar elemen supernatural, Aplikasi Iblis membawa persoalan sosial melalui kisah Laras, perempuan pekerja yang kehilangan nyawa dalam perjalanan pulang pada malam hari.

Dosma Hazenbosch menilai kisah tersebut mencerminkan kekhawatiran yang masih relevan bagi perempuan yang harus beraktivitas hingga malam.

Menurutnya, film ini diharapkan tidak berhenti sebagai tontonan horor, tetapi juga dapat mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya keamanan lingkungan bagi perempuan yang pulang bekerja.

Isu tersebut memberi lapisan lain pada cerita. Ancaman dalam film tidak hanya datang dari dunia supernatural, tetapi juga berangkat dari kekerasan yang dapat terjadi dalam kehidupan nyata.

Sementara itu, Junior Roberts menghadapi tantangan untuk menampilkan perubahan emosi Arya, dari kesedihan akibat kehilangan hingga keterlibatannya dalam rangkaian aksi dan teror.

Debut horor Dimas Anggara

Melalui Aplikasi Iblis, Dimas Anggara memperluas kiprahnya ke genre horor. Film ini mencoba menggabungkan cerita cinta yang tragis dengan ketegangan supernatural dan persoalan sosial yang dekat dengan kehidupan perkotaan.

Kisah Arya dan Laras menjadi gambaran tentang bagaimana kerinduan untuk mengembalikan sesuatu yang telah hilang dapat berubah menjadi pintu bagi ancaman baru.

Film produksi NIH Pictures tersebut dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 15 Oktober 2026. (Cmy)