Bukan Sekadar Angka, The Genius Math League Mencari Talenta dengan Cara Berpikir Berbeda
3 mins read

Bukan Sekadar Angka, The Genius Math League Mencari Talenta dengan Cara Berpikir Berbeda

1 Kali Dibaca

Lanskap, Surabaya – Di sebuah ruang di Surabaya, Sabtu (5/9/2026), matematika tidak hanya hadir sebagai angka dan rumus.

Ia menjadi arena untuk menguji cara berpikir.

Sebanyak 86 peserta dari berbagai jenjang pendidikan—mulai dari SD, SMP hingga mahasiswa—berkumpul di Grand Destination Ballroom, Novotel Samator Surabaya Timur untuk mengikuti Regional Offline Qualification The Genius Math League 2026.

Mereka datang dengan kemampuan yang berbeda. Tetapi di arena kompetisi, semua berhadapan dengan tantangan yang sama: seberapa cepat mereka berpikir, seberapa tepat mereka mengambil keputusan, dan seberapa tenang mereka menyelesaikan persoalan ketika waktu terus berjalan.

Surabaya menjadi kota pertama dalam perjalanan mencari “Next Genius Generation”.

Kompetisi yang diselenggarakan TechConnect sebagai bagian dari Sinar Mas Digital Day 2026 tersebut menawarkan total hadiah Rp1 miliar.

Namun, nilai kompetisi ini tidak hanya berada pada angka hadiah.

Ada upaya untuk melihat matematika dari sisi yang lebih luas: sebagai cara berpikir, kemampuan memecahkan masalah dan mengambil keputusan.

Ketika Usia Bukan Lagi Ukuran

Kompetisi matematika biasanya memiliki batas yang cukup jelas. Peserta dibagi berdasarkan usia atau jenjang pendidikan.

The Genius Math League mencoba melihatnya dengan cara berbeda.

Di dalam kompetisi ini, jenjang pendidikan tidak serta-merta menjadi ukuran kemampuan seseorang.

Seorang siswa SD dapat memiliki kemampuan berpikir matematis yang sangat kuat. Begitu pula siswa SMP yang bisa saja mampu menyelesaikan persoalan lebih cepat dibandingkan peserta dari jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Karena itu, tantangan yang diberikan tidak berhenti pada penguasaan materi.

Peserta harus berpikir cepat, mempertahankan akurasi, menyusun strategi dan mengambil keputusan ketika berada di bawah tekanan waktu.

Pada akhirnya, yang diuji bukan hanya apa yang diketahui, tetapi bagaimana pengetahuan itu digunakan.

Tiga Ruang untuk Bertahan

Perjalanan di tingkat regional dibangun melalui tiga tahap.

Elimination Circuit menjadi pintu pertama. Peserta menghadapi hingga 10 soal dalam waktu 20 menit. Kesalahan dapat langsung mengakhiri perjalanan.

Kemudian tersisa enam peserta untuk menghadapi Precision Sprint. Di sini, kecepatan harus berjalan beriringan dengan ketepatan.

Tahap terakhir adalah Finalist Gauntlet/Duel. Enam peserta berhadapan dalam tiga pertandingan dengan format best of 5.

Dari sana, hanya tiga peserta yang memperoleh tiket menuju Grand Final Championship.

Tiga orang tersebut bukan sekadar membawa hasil dari sebuah kompetisi. Mereka membawa nama Surabaya menuju panggung yang lebih besar.

Belajar di Luar Arena

The Genius Math League 2026 juga menyediakan ruang untuk belajar.

Di Surabaya, peserta mendapatkan Math Workshop with Q&A bersama Dr. Marcellinus Andy Rudhito, S.Pd., Dosen S1 dan S2 Pendidikan Matematika Universitas Sanata Dharma.

Ada pula Financial Education Workshop with Q&A.

Dua kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa kompetisi tidak harus berhenti ketika soal terakhir selesai dikerjakan.

Ada pengetahuan yang bisa dibawa pulang, perspektif baru yang bisa dipelajari dan kemampuan yang dapat terus dikembangkan.

Perjalanan Belum Selesai

Surabaya hanyalah awal.

Setelah kota ini, Regional Offline Qualification The Genius Math League 2026 akan berlanjut ke Bandung, Yogyakarta, Jakarta, Semarang dan Cikarang.

Tiga peserta terbaik dari Surabaya nantinya akan bertemu dengan talenta-talenta terbaik dari regional lain.

Pertemuan itu akan berlangsung pada Grand Final Championship, 23–24 Oktober 2026 di ICE BSD, Tangerang.

Di sana, hadiah Rp1 miliar menanti bersama tantangan yang lebih besar.

Bagi mereka yang tidak dapat hadir secara langsung karena persoalan jarak dan biaya, jalur Regional Online Qualification juga tersedia.

Dengan demikian, ruang kompetisi tidak hanya terbuka bagi mereka yang berada di kota penyelenggara.

Talenta matematika dari berbagai penjuru Indonesia masih memiliki kesempatan untuk ikut dalam perjalanan ini.

Pertanyaan yang dibawa The Genius Math League sebenarnya sederhana.

Apakah usia menentukan siapa yang paling unggul?

Apakah jenjang pendidikan menjadi ukuran kemampuan?

Atau, pada akhirnya, kemampuan berpikir, memecahkan masalah dan tetap tenang ketika tekanan datanglah yang membuat seseorang berbeda?

Jawabannya akan terus dicari.

Dan perjalanan itu, untuk tahun ini, dimulai dari Surabaya. (Hnd)