Bukan Usia, Pakar Sebut Keamanan Galon Guna Ulang Ditentukan Sanitasi dan Cara Pemakaian
5 mins read

Bukan Usia, Pakar Sebut Keamanan Galon Guna Ulang Ditentukan Sanitasi dan Cara Pemakaian

7 Kali Dibaca

Lanskap, Jakarta – Perdebatan mengenai usia galon guna ulang tidak dapat disederhanakan menjadi anggapan bahwa semakin lama digunakan maka semakin berbahaya air minum di dalamnya.

Sejumlah pakar menilai keamanan galon guna ulang lebih berkaitan dengan pemenuhan standar keamanan pangan, kondisi fisik kemasan, proses sanitasi, pengawasan produsen, serta bagaimana galon disimpan dan digunakan.

Guru Besar Bidang Rekayasa Pengemasan Pangan IPB, Prof. Nugraha Edhi Suyatma, mengatakan hingga saat ini tidak terdapat standar yang membatasi usia penggunaan galon guna ulang.

Menurutnya, produsen air minum dalam kemasan (AMDK) memiliki sistem pengendalian mutu untuk memastikan kemasan yang digunakan kembali tetap memenuhi persyaratan keamanan pangan.

“Mereka sudah punya standar internal terkait mutu fisik, kimia dan keamanan pangannya. Jadi, insyaallah aman,” ujar Nugraha dalam keterangan tertulis yang diterima pada Selasa (11/7/2026).

Frekuensi Penggunaan Bukan Satu-satunya Indikator

Nugraha merujuk pada hasil riset kolaborasi Seafast IPB dan BPOM yang menunjukkan galon yang telah digunakan hingga 50 kali dan disimpan pada kondisi ekstrem tetap memenuhi batas migrasi Bisphenol A (BPA) sesuai ketentuan BPOM.

Temuan tersebut menjadi salah satu dasar bahwa frekuensi penggunaan tidak dapat secara otomatis dijadikan indikator penurunan keamanan air minum.

Menurut Nugraha, ketahanan kemasan lebih dipengaruhi perlakuan terhadap galon selama masa penggunaannya.

Cara mencuci, misalnya, dapat menjadi faktor penting. Penggunaan metode atau perlakuan yang berpotensi menggores permukaan bagian dalam galon juga dapat memengaruhi kondisi fisik kemasan.

“Jadi, perlakuan para konsumen lebih mempengaruhi usia atau ketahanan daripada galon itu menjadi cepat rusak atau tidak,” katanya.

Dengan perspektif tersebut, usia kalender sebuah galon tidak dapat berdiri sendiri sebagai ukuran keamanan. Kondisi fisik dan bagaimana kemasan tersebut diperlakukan menjadi bagian dari penilaian yang lebih relevan.

Sanitasi dan Kondisi Mikrobiologis

Guru Besar Departemen Teknologi Industri Pertanian (TIN) IPB, Prof. Suprihatin, menambahkan bahwa hingga kini tidak terdapat laporan ilmiah yang menunjukkan galon guna ulang menimbulkan gangguan kesehatan hanya karena faktor lamanya pemakaian.

“Selama ini tidak ada laporan ilmiah yang menunjukkan galon guna ulang menimbulkan dampak kesehatan hanya karena faktor usia pemakaian,” katanya.

Menurut Suprihatin, perhatian justru perlu diarahkan pada kebersihan fisik kemasan serta proses sanitasi dan pengawasan mikrobiologis.

Galon yang memenuhi standar kebersihan dan diproses sesuai prosedur dapat tetap menjaga kualitas air minum yang dikemas di dalamnya.

Perusahaan AMDK yang memiliki sistem pengendalian mutu, kata Suprihatin, umumnya melakukan pemeriksaan terhadap galon sebelum digunakan kembali.

Pemeriksaan tersebut mencakup kondisi fisik, umur pakai, hingga aspek kebersihan secara kimia dan mikrobiologis.

“Perusahaan AMDK yang sudah punya nama umumnya memperhatikan hal tersebut dan jarang menggunakan galon yang lanjut usia,” ujarnya.

Migrasi BPA dan Faktor yang Memengaruhinya

Dalam konteks BPA, Suprihatin menjelaskan bahwa usia galon bukan faktor yang menentukan laju migrasi zat tersebut ke dalam air.

Migrasi lebih berkaitan dengan kondisi tertentu yang melibatkan faktor kimia dan fisik, termasuk tingkat keasaman, suhu tinggi, serta lamanya kontak antara material kemasan dengan produk.

“Migrasi BPA hanya terjadi dalam kondisi ekstrim tertentu. Secara teoritis, laju migrasi BPA dari galon ke AMDK tidak dipengaruhi oleh frekuensi pemakaian galon,” jelasnya.

Artinya, anggapan bahwa frekuensi penggunaan otomatis meningkatkan migrasi BPA tidak dapat dipisahkan dari kondisi penggunaan dan lingkungan tempat galon tersebut berada.

Penyimpanan Menjadi Faktor Penting

Pakar Teknik Kimia Steven Soen menilai anggapan bahwa galon yang sudah digunakan selama bertahun-tahun otomatis berbahaya juga tidak dapat disimpulkan tanpa melihat kondisi kemasan dan cara penggunaannya.

Menurutnya, penyimpanan dan penggunaan justru menjadi faktor yang lebih berpengaruh terhadap potensi migrasi material dibanding sekadar lamanya usia pakai.

“Cara penyimpanan dan penggunaan galon jauh lebih berpengaruh (memicu migrasi) dibanding sekadar lamanya usia pakai,” ujarnya.

Paparan panas secara terus-menerus maupun penggunaan yang tidak sesuai fungsi dapat meningkatkan potensi migrasi material. Namun, kondisi tersebut lebih berkaitan dengan manajemen penyimpanan dan penggunaan daripada usia galon semata.

“Itu manajemen penyimpanan saja. Kalau memang buat minum, simpan baik-baik di dalam rumah. Jadi balik lagi ke kita manusianya, bukan plastiknya, bukan BPA-nya, tapi ke kita. Gimana kita dengan bijak menyimpan produk itu. Gimana kita juga dengan bijak mengolah sampahnya,” katanya.

Steven juga menjelaskan bahwa produsen AMDK tidak menggunakan satu galon tanpa batas waktu. Produsen memiliki kebijakan dan standar internal terkait kondisi, jumlah penggunaan, serta umur pakai kemasan.

Galon yang tidak lagi memenuhi persyaratan akan ditarik dari peredaran dan kemudian masuk dalam proses pengelolaan atau daur ulang material.

“Apakah memang semua orang galon pemberian kakek ini terus dipakai? Enggak juga. Pabrik juga pasti punya kebijakan. Dia juga cuci-cuci pasti ada batasnya, enggak mungkin dari zaman ratusan tahun itu terus dipakai. Pasti dia bikin lagi. Jadi enggak mungkin galon itu dipakai bertahun-tahun terus tanpa ada penggantian. Pasti pada akhirnya kembali di-recycle dan pabrik mengeluarkan yang baru,” ujarnya.

Pada akhirnya, keamanan galon guna ulang perlu dilihat sebagai sebuah sistem. Bukan hanya soal berapa kali sebuah kemasan digunakan, tetapi juga bagaimana kondisi fisiknya, bagaimana proses sanitasi dilakukan, bagaimana produsen mengendalikan mutunya, serta bagaimana konsumen menyimpan dan memperlakukan galon tersebut.

Pendekatan tersebut membuat isu keamanan galon tidak berhenti pada persoalan usia, melainkan pada keseluruhan rantai pengelolaan kemasan hingga air minum sampai ke konsumen. (Rnie)