
MBG dan Stabilitas Harga Unggas: Ketika Program Gizi Nasional Menjadi Penyangga Ekonomi Peternak
Lanskap, Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama ini lebih banyak dipahami sebagai kebijakan pemenuhan gizi bagi peserta didik. Namun di balik tujuan sosial tersebut, program ini juga mulai menunjukkan dampak ekonomi yang signifikan terhadap sektor peternakan unggas nasional.
Pergerakan harga ayam broiler dan telur di tingkat peternak dalam beberapa pekan terakhir menjadi salah satu indikatornya.
Setelah sempat mengalami tekanan akibat melemahnya permintaan selama masa libur sekolah dan faktor musiman, harga kedua komoditas tersebut mulai bergerak naik bersamaan dengan kembali berjalannya Program MBG.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa program pangan pemerintah tidak hanya berfungsi sebagai instrumen perlindungan konsumen, tetapi juga dapat menjadi penyangga permintaan di tingkat produsen.
Permintaan Menjadi Faktor Penentu
Karakteristik komoditas unggas membuat keseimbangan antara produksi dan konsumsi sangat menentukan harga.
Ketika permintaan menurun, harga di tingkat peternak cenderung langsung tertekan karena produk memiliki masa simpan yang terbatas.
Kondisi inilah yang sempat terjadi selama penghentian sementara MBG saat libur sekolah.
Sebaliknya, ketika dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kembali beroperasi, kebutuhan terhadap ayam dan telur meningkat sehingga harga mulai pulih.
Data Badan Pangan Nasional menunjukkan kenaikan harga ayam broiler lebih dari lima persen hanya dalam satu minggu, sementara harga telur juga bergerak positif.
Efek Berganda Program MBG
Dalam perspektif ekonomi pangan, MBG menghadirkan multiplier effect.
Di satu sisi, program memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.
Di sisi lain, program menciptakan pasar yang relatif stabil bagi petani dan peternak.
Setiap dapur MBG membutuhkan pasokan bahan pangan dalam jumlah besar dan berkelanjutan.
Kondisi tersebut memberikan kepastian permintaan yang selama ini menjadi tantangan utama peternak rakyat.
Apabila rantai pasok terus diperkuat melalui kemitraan dengan peternak lokal, manfaat ekonomi program akan semakin luas.
Menjaga Keseimbangan
Meski tren harga mulai membaik, pemerintah tetap menghadapi tantangan menjaga keseimbangan antara kesejahteraan produsen dan keterjangkauan harga bagi konsumen.
Harga yang terlalu rendah merugikan peternak, sedangkan harga yang terlalu tinggi membebani masyarakat.
Karena itu, keberhasilan MBG tidak hanya diukur dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga kemampuannya menciptakan ekosistem pangan yang sehat, mulai dari produksi, distribusi, hingga konsumsi.
Dalam konteks tersebut, MBG berpotensi berkembang menjadi instrumen strategis yang menghubungkan agenda ketahanan pangan, peningkatan gizi masyarakat, dan penguatan ekonomi peternak secara bersamaan. (Hnd)



