
Pemerintah Perkuat Literasi AI untuk Cegah Kesenjangan Digital Generasi Baru
Lanskap, Jakarta – Pemerintah menilai tantangan pemerataan digital di Indonesia kini memasuki fase baru. Jika sebelumnya fokus pembangunan digital lebih banyak diarahkan pada perluasan akses internet, kini perhatian mulai bergeser pada kemampuan masyarakat memanfaatkan teknologi kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI).
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, mengatakan perkembangan AI yang semakin pesat berpotensi melahirkan bentuk kesenjangan digital baru apabila pemanfaatannya hanya dinikmati oleh kelompok tertentu yang memiliki akses dan kemampuan teknologi lebih baik.
Menurut Nezar, ukuran pemerataan digital saat ini tidak lagi sekadar ditentukan oleh siapa yang memiliki akses internet, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan AI untuk mendukung kegiatan ekonomi, pendidikan, pekerjaan, hingga pelayanan publik.
“Jika sebelumnya pemerataan pembangunan digital diukur dari akses terhadap internet, hari ini pemerataan digital mulai bergeser pada akses terhadap pemanfaatan AI,” ujar Nezar saat menghadiri Garuda AI Impact Summit 2026 di Jakarta Selatan, Kamis (11/6/2026).
Ia menegaskan bahwa AI harus menjadi peluang yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Pemerintah tidak ingin teknologi ini hanya dimanfaatkan oleh kelompok yang memiliki sumber daya dan kemampuan teknologi lebih maju.
Menurutnya, manfaat AI harus dapat dirasakan oleh berbagai kalangan, mulai dari pelajar, guru, pelaku UMKM, aparatur pemerintah, komunitas lokal, hingga masyarakat umum di seluruh Indonesia.
Nezar menilai pemanfaatan AI yang inklusif akan menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing nasional di tengah persaingan teknologi global yang semakin ketat. Dengan akses yang merata, AI diyakini mampu membantu meningkatkan produktivitas, membuka peluang ekonomi baru, serta mempercepat penyelesaian berbagai tantangan pembangunan.
Untuk mendukung hal tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital terus memperkuat berbagai program literasi digital. Program ini bertujuan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memahami sekaligus memanfaatkan teknologi AI secara bijak dan bertanggung jawab.
Berbagai kegiatan telah dilakukan, mulai dari pelatihan daring, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga edukasi mengenai penggunaan AI yang aman dan etis.
Nezar menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi konsumen teknologi. Ia berharap masyarakat Indonesia mampu menjadi inovator yang dapat mengembangkan berbagai solusi berbasis AI untuk menjawab kebutuhan dan tantangan pembangunan nasional.
“Indonesia harus mampu melahirkan lebih banyak inovator yang memanfaatkan AI untuk menciptakan solusi bagi masyarakat dan pembangunan bangsa,” tegasnya.
Melalui penguatan literasi digital dan pemerataan akses teknologi, pemerintah berharap transformasi digital di Indonesia tidak hanya menghadirkan konektivitas yang lebih luas, tetapi juga membuka kesempatan yang setara bagi seluruh masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup melalui pemanfaatan AI. (Asm)



