Lanskap, Jakarta – Aceh bukan cuma soal sejarah panjang dan alam yang indah. Daerah yang dikenal sebagai Serambi Mekkah ini juga punya urusan dapur yang serius. Kuliner Aceh terkenal berani, kaya rempah, dan gampang bikin orang jatuh cinta sejak suapan pertama.
Sejak ratusan tahun lalu, letak Aceh yang strategis membuat banyak budaya singgah: Melayu, Arab, India, sampai Eropa. Semua pengaruh itu akhirnya nyatu di makanan. Makanya, hampir setiap hidangan Aceh punya rasa gurih kuat, aroma rempah tajam, dan karakter yang nempel lama di ingatan.
Kalau bicara kuliner Aceh, nama pertama yang muncul pasti Mie Aceh. Mie kuning tebal dengan bumbu pekat ini bisa dinikmati goreng atau berkuah, ditambah daging, ayam, atau seafood. Pedasnya nampol, gurihnya bikin susah berhenti. Ada juga Sate Matang dari Bireuen, sate daging empuk berbumbu kuat yang biasanya disajikan bareng kuah soto hangat. Sederhana, tapi nagih.
Aceh juga punya makanan yang identik dengan kebersamaan, salah satunya Kuah Beulangong. Masakan daging dan nangka muda ini biasanya dimasak rame-rame dalam kuali besar saat acara adat. Rasanya kaya, porsinya pun nggak pelit. Lalu ada Sie Reuboh, olahan daging sapi rebus dengan bumbu tajam yang sering jadi andalan di meja makan keluarga.
Buat yang suka masakan tradisional, Kuah Pliek U dan Eungkot Keumamah alias ikan kayu wajib dicoba. Dua menu ini menunjukkan cara orang Aceh mengolah bahan makanan dengan cerdas, kaya rasa, dan tahan lama. Jangan lupa Ayam Tangkap, ayam goreng dengan daun kari renyah yang aromanya langsung bikin lapar.
Minumannya juga nggak kalah juara. Kopi Gayo sudah terkenal sampai luar negeri, Kopi Sanger punya cara racik khas, dan Teh Tarik Aceh selalu cocok diminum santai. Kalau mau yang segar, ada Le Boh Timon dan Rujak Aceh Kuah Pala yang pas buat ngusir panas.
Jalan-jalan kuliner di Aceh itu bukan cuma soal kenyang. Dari setiap rasa, ada cerita tentang sejarah, budaya, dan kebiasaan hidup orang-orangnya. Sekali coba, dijamin kepikiran terus. (Asm)




