Beranda » Usus Buntu (Apendisitis): Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganannya

Usus Buntu (Apendisitis): Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganannya

Usus Buntu (Apendisitis): Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganannya

Apa Itu Usus Buntu?

Lanskap, Jakarta – Usus buntu atau apendisitis adalah kondisi peradangan pada apendiks, yaitu organ kecil berbentuk seperti jari yang terletak di bagian kanan bawah perut dan menempel pada usus besar. Meski sering dianggap tidak memiliki fungsi vital, apendiks dapat menimbulkan masalah serius jika mengalami peradangan dan tidak segera ditangani secara medis.

Penyebab Usus Buntu

Apendisitis umumnya terjadi akibat adanya penyumbatan pada apendiks. Sumbatan ini bisa disebabkan oleh tinja yang mengeras, benda asing, infeksi, atau dalam kasus tertentu, pertumbuhan jaringan abnormal seperti tumor. Saat apendiks tersumbat, bakteri dapat berkembang dengan cepat dan memicu peradangan.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya usus buntu antara lain:

  • Produksi lendir berlebih yang membuat isi apendiks menjadi kental dan menyumbat saluran
  • Pembesaran jaringan limfoid di dalam apendiks yang dapat menutup lumen dan memicu peradangan

Gejala Usus Buntu

Gejala paling khas dari usus buntu adalah nyeri perut yang awalnya terasa di sekitar pusar, kemudian berpindah ke perut kanan bawah dan semakin terasa nyeri seiring waktu.

Selain itu, gejala lain yang sering menyertai meliputi:

  • Mual dan muntah
  • Hilangnya nafsu makan
  • Demam ringan hingga sedang
  • Perut terasa kembung
  • Sulit buang gas atau buang air besar

Pada anak-anak dan lansia, gejala usus buntu terkadang tidak khas, sehingga diperlukan kewaspadaan lebih tinggi untuk mencegah keterlambatan diagnosis.

Bagaimana Usus Buntu Didiagnosis?

Untuk memastikan diagnosis apendisitis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, terutama dengan menilai nyeri tekan di perut kanan bawah. Pemeriksaan penunjang yang mungkin dilakukan antara lain:

  • Tes darah untuk melihat tanda infeksi, seperti peningkatan sel darah putih
  • Tes urine untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain
  • Pemeriksaan pencitraan seperti USG atau CT scan untuk memastikan kondisi apendiks

Penanganan Usus Buntu

Penanganan utama usus buntu adalah operasi pengangkatan apendiks atau apendektomi. Tindakan ini dapat dilakukan dengan dua metode:

  1. Apendektomi laparoskopi, yaitu operasi dengan sayatan kecil yang minim nyeri dan mempercepat proses pemulihan
  2. Apendektomi terbuka, dilakukan jika apendiks sudah pecah atau infeksi telah menyebar ke rongga perut

Setelah operasi, pasien biasanya menjalani perawatan singkat di rumah sakit dan diberikan antibiotik untuk mencegah infeksi lanjutan.

Apakah Usus Buntu Bisa Dicegah?

Hingga saat ini, belum ada cara pasti untuk mencegah usus buntu. Namun, pola makan tinggi serat seperti konsumsi buah dan sayuran dipercaya dapat membantu menurunkan risiko terjadinya apendisitis.

Kesimpulan

Usus buntu merupakan kondisi medis yang memerlukan penanganan segera. Jika dibiarkan, apendisitis dapat menyebabkan komplikasi serius seperti pecahnya apendiks dan infeksi di rongga perut. Oleh karena itu, mengenali gejala sejak dini dan segera mencari bantuan medis sangat penting. Dengan diagnosis dan penanganan yang tepat, sebagian besar pasien dapat pulih dengan baik tanpa komplikasi jangka panjang.

Untuk mendapatkan diagnosis yang akurat dan penanganan sesuai kondisi Anda, konsultasikan dengan dokter spesialis di RS Premier Bintaro. Pemeriksaan dilakukan oleh tim medis berpengalaman dengan metode yang tepat.
Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui rspremierbintaro.com, WhatsApp 0812-2230-9911, atau RS Premier Careline 1500 908.

Artikel oleh: dr. Desak Ketut N.S. Pramegia, Sp.B. Dokter Spesialis Bedah Umum RS Premier Bintaro (Hnd)