Sosok yang Telah Pergi Itu Kembali? Cerita Narvella Bikin Merinding

Sosok yang Telah Pergi Itu Kembali? Cerita Narvella Bikin Merinding

Sahabatku Adalah Inspirasiku (Chapter 1 bagian 4)

LanskapKakiku melangkah mendekati ayah dan duduk di sofa lainnya. “Ayah pulang jam berapa?” tanyaku basa-basi. Aku ingin langsung bertanya perihal Nathania, tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat.

Ayah meletakkan kopinya di atas meja. “Jam sepuluh malam.”

Sebelum aku membuka mulut, ketukan di pintu mengalihkan perhatian ayah sepenuhnya. “Sepertinya itu Nandi, ayah buka pintu dulu.”

Aku menahan tangan ayah. “Nggak usah, yah. Biar Vella aja yang bukain, ayah duduk aja disini.”

Aku segera beranjak dan membuka pintu. Sosok Renandi terlihat. Penampilan laki-laki itu hari ini terlihat jauh lebih rapi dari biasanya. Ia menyapa dengan senyum hangat.

“Selamat pagi, Vella. Om Erick ada?”

Aku membuka pintu lebih lebar. “Iya, pagi juga. Ayah ada di dalam, masuk aja.”

Renandi melangkah masuk dan berjalan menghampiri ayah. Aku menutup pintu dan menyandarkan punggungku di salah satu pilar yang menyangga rumah ayah dan ibuku. Menatap ke arah ruang tamu, lebih tepatnya ke arah ayah dan Renandi yang sibuk berbincang.

Suasana di sekitar mereka hangat. Obrolan mereka juga terlihat seru meskipun aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Aku menghela nafas pelan, benar-benar deh, kapan waktu yang tepat itu akan datang?

Aku berjalan menaiki anak tangga menuju kamarku. Langkah kakiku membawaku ke hadapan buku diary ku yang tertutup rapi di atas meja belajar. Aku duduk di kursi dan membuka buku diary ku. Kemudian, aku teringat sesuatu.

“Oh iya, kenapa dalam mimpi itu aku bilang empat tahun yang lalu ya? Nathania meninggal empat tahun yang lalu, sedangkan sekarang aja aku masih kelas Vlll. Berarti, dia meninggalnya di umur enam belas tahun?”

Aku menatap keluar jendela. Langit biru membentang luas sejauh mata memandang. Awan putih menggumpal membentuk sesosok makhluk berbulu halus dan bertelinga panjang. Kelinci? Jika berbicara tentang kelinci, sudah lama sekali sejak terakhir kali aku makan sate kelinci bersama Nathania.

“Matanya yang terpejam erat terbuka lebar begitu suara bisikan terdengar di telinga kirinya. Dengan cepat ia menggosok telinganya itu hingga muncul rona kemerahan. Bukan rona merah muda seperti seseorang yang sedang jatuh cinta atau salah tingkah. Melainkan rona merah yang muncul akibat bisikan dari dunia yang tidak terdengar.”

Aku menguap malas. Kenangan masa lalu saat aku makan sate kelinci bersamanya membuat pikiranku kembali jatuh dalam ingatan lama. Kata-katanya di hari itu kembali terngiang di telingaku. Terlebih, saat dia bercerita tentang kisah hantu yang terjebak di dunia manusia.

Aku membuka buku diary ku dan mulai menulis.

“Kenangan masa lalu yang sudah lama terlupakan itu kembali muncul ke permukaan. Gadis itu menggigil dalam tidurnya. Setiap peristiwa yang terjadi di hari itu semuanya menyenangkan. Tapi bagi dirinya yang sekarang, itu seperti peringatan halus bahwa Arvalia sudah tidak ada lagi.

“Aku sayang kamu, Arvalia.”

“Aku juga sayang kamu.”

Langit-langit kamar terlihat begitu ia membuka matanya. Kini, ia tidak lagi berada di area pemakaman tempat Arvalia muncul di depannya untuk yang kedua kalinya. Keningnya berkerut halus. Dalam batinnya, ia bertanya. “Apakah yang aku alami itu hanya mimpi?”

Pintu kamar terbuka perlahan. Ibu melangkah masuk dengan nampan di tangan. Tatapan mereka bertemu. Ibu tersenyum lembut. Ia berjalan menghampiri dan meletakkan nampan tersebut di atas meja. Tangannya terulur mengusap kening gadis itu yang berkeringat.

“Apa ada yang sakit, sayang?”

Gadis itu menggeleng lemah. “Nggak ada yang sakit, bu.”

Ibu mengangguk. Tatapannya beralih ke luar jendela yang sedikit terbuka. Ia beranjak berdiri dan membuka jendela lebih lebar. Membiarkan cahaya matahari menerangi sisi wajah gadis itu.

Ibu menarik kursi belajar gadis itu dan duduk. Gadis itu menatap sang ibu. “Bu, kenapa ibu nggak bilang sama aku kalau Arvalia udah lama pergi?”

Ibu meraih tangannya dan menggenggamnya.

“Waktu itu kan kamu lagi sibuk-sibuknya, sayang. Bukannya ibu atau ayah nggak mau kasih tahu kamu, tapi kamu juga tahu gimana keadaan kami saat itu. Maafkan ayah dan ibu karena terlambat memberitahu kamu.”

Gadis itu kembali menggeleng. “Bukan salah ibu atau ayah. Aku aja yang sok sibuk padahal aku nggak sesibuk itu sampai harus mengabaikan pesan dari Arvalia.”

Ibu menggenggam tangannya lebih erat. “Itu bukan salah kamu.”

Gadis itu kembali menutup matanya. “ Aku mau lanjut tidur, bu.”

Ibu mengangguk mengerti dan beranjak dari duduknya. Kursi belajar ia kembalikan ke tempatnya semula. Sebelum meninggalkan pintu kamar, ia menoleh dan menatap gadis itu dengan senyum lembut.

“Buburnya di makan ya, jangan lupa diminum obatnya.”

Gadis itu merapatkan selimutnya.

“Iya, bu.”

Pintu tertutup dengan decitan halus. Gadis itu melirik nampan di atas meja.”

“Narvella,” panggilan di luar pintu kamar disertai suara ketukan membuyarkan lamunanku sepenuhnya. Aku menutup buku diary ku dan menyimpannya di laci meja.

Dengan langkah malas, aku membuka pintu kamar. Sosok Renandi terlihat. Ibu jarinya menunjuk ke lantai bawah. “Narisa udah nungguin kamu dari tadi.”

Aku tersenyum tipis sebagai balasan. “Oke, makasih.”

Aku kembali menutup pintu dan menatap jam di dinding yang menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluh menit. Tak terasa sudah selama itu aku berkutat dengan dunia imajinasiku. Aku memasukkan beberapa barang yang diperlukan ke dalam tas dan menggendongnya di punggung.

Setelah dirasa tidak ada yang tertinggal aku melangkah keluar dari kamar menuju lantai bawah tempat Narisa menunggu. Di ruang tamu, kini duduk empat orang. Ayah, ibu. Renandi, dan Narisa. Aku berjalan mendekat dan mencium tangan ibu dan ayah. Tak lupa aku dan Narisa berpamitan sebelum keluar dari rumah.

“Aku mau ke sekolah dulu, yah, bu.”

“Jangan pulang terlalu sore ya.”

“Iya, yah. Assalamualaikum.”

“Waalaikum salam.”

Aku dan Narisa berjalan keluar dari pintu rumah dan menyusuri jalanan menuju ke sekolah. Narisa mengeluh ringan, “kamu ngapain aja sih tadi? Hampir aja aku cosplay jadi lumut kalau nggak inget ada Nandi di sana.”

Kemudian, ia berseru. “Tunggu dulu!”

Aku mendadak berhenti berjalan. Narisa menatapku dengan tatapan menggoda. “Kenapa Nandi ada di rumah kamu? Dia juga kelihatannya akrab banget sama ayah kamu. Jujur deh, kalian ada hubungan kan?”

Aku kembali melanjutkan langkahku yang sempat terhenti karena seruannya yang tiba-tiba. “Iya, ada.”

Narisa menjerit kecil. “Tuh, kan, bener! Terus kenapa kamu selalu nyangkal? Kalian pacaran ya?”

Aku mendelik tajam. “Nggak udah ngaco, Nar.”

“Kalau bukan pacaran, apa dong? Crush? HTS? CLBK? TTM? Mantan? Tunangan? Atau, jangan bilang dia suami kamu?”

Aku menjitak kepalanya karena kesal. Dia meringis sambil mengusap kepalanya. “Yang bener yang mana?”

“Nggak ada yang bener.”

Aku berjalan lebih cepat, meninggalkan Narisa yang terus mengoceh tentang Renandi. “Kalau kamu suka sama dia, jangan bawa-bawa aku dalam masalah kalian, Narisa.”

Rananzy Ninxy Halstera Sahabatku adalah Inspirasiku

Rananzy Ninxy Halstera adalah pelajar SMA yang aktif menulis cerita fiksi remaja dengan sentuhan emosional dan inspiratif. Ia bercita-cita menjadi penulis novel yang karyanya dapat menyentuh hati banyak orang. (Red)