Beranda » Sempat Geger, Ini Kisah Lengkap Pramugari Gadungan di Pesawat Batik Air

Sempat Geger, Ini Kisah Lengkap Pramugari Gadungan di Pesawat Batik Air

Lanskap, Jakarta – Jagat media sosial sempat dibuat heboh oleh aksi tak biasa seorang wanita muda asal Sumatera Selatan. Ia ketahuan menyamar sebagai pramugari Batik Air dan bahkan berhasil naik pesawat dengan seragam lengkap awak kabin.

Aksi ini terekam dalam sebuah video yang kemudian viral. Banyak warganet dibuat heran, bagaimana mungkin seorang penumpang bisa tampil begitu meyakinkan hingga lolos masuk pesawat layaknya kru penerbangan sungguhan.

Wanita tersebut diketahui bernama Khairun Nisya, akrab disapa Nisya, berusia 23 tahun, asal Muara Kuang, Kabupaten Ogan Ilir. Dalam video yang beredar, penampilannya nyaris tanpa celah. Nisya mengenakan kebaya putih, rok batik ungu khas pramugari Batik Air, rambut disanggul rapi dengan poni khas awak kabin. Ia juga membawa koper berlogo maskapai dan mengenakan tanda pengenal, membuat siapa pun sulit curiga.

Dengan penampilan tersebut, Nisya berhasil naik pesawat Batik Air dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang menuju Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Dari luar, ia tampak seperti pramugari sungguhan yang sedang bertugas.

Namun, penyamaran itu tak bertahan lama. Setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, kru maskapai melakukan pemeriksaan lanjutan dan menemukan kejanggalan pada kartu identitas yang dikenakan Nisya. Desain ID card tersebut diketahui sudah tidak digunakan Batik Air sejak sekitar 15 tahun lalu. Dari situlah kedok pramugari gadungan ini akhirnya terbongkar dan Nisya langsung diamankan petugas.

Akui Kesalahan dan Minta Maaf

Setelah aksinya viral, Nisya akhirnya angkat bicara. Ia menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dan mengakui bahwa dirinya memang bukan pramugari Batik Air.

“Saya menggunakan seragam dan atribut Batik Air. Namun sesungguhnya saya bukanlah pramugari Batik Air,” ujarnya.

Ia juga meminta maaf kepada pihak maskapai dan Lion Group atas perbuatannya tersebut.

“Dengan ini saya meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada pihak maskapai Batik Air dan Lion Group. Melalui video ini, saya membuat pernyataan yang sesungguhnya tanpa paksaan dari siapa pun,” tegasnya.

Penumpang Resmi, Bukan Penyusup

Pihak Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang pun memberikan klarifikasi agar tidak terjadi kesalahpahaman. Humas General Manager Bandara SMB II, Ahmad Syaugi Shahab, menjelaskan bahwa Nisya sebenarnya adalah penumpang resmi dengan tiket sah Batik Air penerbangan ID 7058 rute Palembang-Jakarta pada 6 Januari 2026.

Seperti penumpang lainnya, Nisya tetap melewati seluruh prosedur standar bandara, mulai dari pemeriksaan keamanan di Security Check Point, pengecekan barang bawaan, hingga pemeriksaan boarding pass. Dari hasil pemeriksaan, tidak ditemukan barang berbahaya atau terlarang.

“Dari pemeriksaan yang dilakukan kemudian diketahui yang bersangkutan memiliki boarding pass yang sah dan tidak membawa barang yang dilarang naik ke pesawat. Kejadian ini telah diinvestigasi dan ditangani secara profesional, objektif, dan sesuai ketentuan operasional, dengan berkoordinasi langsung dengan pihak airline,” ujar Ahmad Syaugi.

Ternyata Korban Penipuan

Kasus ini kemudian ditangani pihak kepolisian. Dari hasil penyelidikan, terungkap fakta lain di balik aksi nekat Nisya. Ia ternyata bukan pelaku kriminal murni, melainkan korban penipuan.

Kasat Reskrim Polres Bandara Soekarno-Hatta, Kompol Yandri Mono, menjelaskan bahwa Nisya sebelumnya dikenalkan dengan seseorang yang mengaku bisa membantunya masuk menjadi pramugari. Demi mengejar impian, Nisya pun berpamitan kepada ibunya dan berangkat ke Jakarta.

“Yang bersangkutan orang Palembang. Dia ke Jakarta izin sama ibunya mau daftar jadi pramugari. Kemudian ketemu seseorang yang menawarkan bisa memasukkan pramugari dengan memberikan sejumlah uang,” kata Yandri.

Nisya diminta menyerahkan uang sebesar Rp30 juta sebagai syarat agar bisa diterima bekerja. Namun setelah uang diberikan, orang yang menjanjikan pekerjaan tersebut menghilang dan tak bisa lagi dihubungi.

“Pada dasarnya dia korban. Dia mau masuk pramugari, menyerahkan uang Rp30 juta, ternyata gagal dan orangnya sudah tidak bisa dihubungi,” jelas Yandri.

Rasa malu dan takut mengecewakan ibunya membuat Nisya mengambil langkah keliru. Ia mengaku kepada keluarga bahwa dirinya sudah bekerja sebagai pramugari. Di media sosial, ia bahkan mengunggah konten palsu untuk meyakinkan orang-orang terdekatnya.

“Karena keburu malu dan tidak mau mengecewakan ibunya yang membantu prosesnya, dia mengaku ke keluarganya kalau dia sudah bekerja. Di media sosialnya juga dia posting supaya orang tuanya tahu dia pramugari,” pungkas Yandri.