Lanskap, Bogor – Semangat emansipasi perempuan kembali digaungkan dalam gelaran Sawala Dasa Wacana #11 yang berlangsung di Bogor, 10 April 2026. Mengangkat tema tentang citra perempuan Sunda di tengah tantangan zaman, forum ini sukses menyentuh hati generasi muda yang hadir.
Digelar oleh Daya Putra Bangsa, diskusi ini tidak hanya menjadi ruang bertukar pikiran, tetapi juga momentum refleksi tentang posisi perempuan dalam budaya, sosial, hingga perjuangan meraih mimpi.
Bulan April yang identik dengan semangat perjuangan perempuan semakin memperkuat makna acara ini, dengan nilai-nilai dari R.A. Kartini dan Dewi Sartika menjadi inspirasi utama.
Dalam sesi diskusi, Halimah Munawir menegaskan pentingnya pendidikan sebagai kunci perempuan Sunda untuk meraih cita-cita. Ia juga mengingatkan pentingnya mengenal jati diri budaya.
“Jangan mengaku urang Sunda jika belum memahami jati dirinya,” pesannya, yang langsung menggugah peserta.

Sementara itu, Monika Maya Dora mengajak generasi muda untuk menjaga identitas melalui budaya, salah satunya dengan melestarikan kebaya sebagai simbol perempuan Indonesia.
Di sisi lain, Titik Sumarti membedah isu patriarki, stigma, hingga emansipasi dengan bahasa yang mudah dipahami. Ia menegaskan bahwa perempuan harus berani melawan diskriminasi dan memperjuangkan kesetaraan.
Diskusi semakin terasa hidup saat para peserta—yang didominasi pelajar—aktif bertanya dan berbagi pandangan. Bahkan, mereka diajak menuliskan cita-cita yang nantinya akan dibukukan, menjadi simbol harapan generasi muda.
Meski sempat diguyur hujan deras, semangat peserta tak surut. Justru, suasana semakin hangat dengan semangat belajar dan berbagi.
Acara ini menegaskan satu hal penting: perempuan Sunda dan Nusantara harus terus melangkah maju, tanpa meninggalkan akar budaya. Dengan nilai silih asih, silih asah, dan silih asuh, generasi muda diharapkan mampu menjaga identitas sekaligus meraih masa depan yang setara. (Asm)

