Sawala Dasa Wacana #11: Mengupas Perempuan Sunda di Era Modern

Sawala Dasa Wacana #11: Mengupas Perempuan Sunda di Era Modern

“Membincang Postur Citra Perempuan Sunda (Nusantara): Mengayuh Cita di Antara Kultur Patriarki, Stigmatisasi, dan Emansipasi”

Lanskap, Bogor – Sejak masa awal peradaban, perempuan Sunda memiliki posisi yang relatif setara dan terhormat dalam tatanan sosial. Dalam khazanah mitologi, sosok Dewi Sri dipandang sebagai simbol kesuburan sekaligus penjaga keberlangsungan hidup. Sementara figur seperti Dyiah Pitaloka Citraresmi dan Dayangsumbi merepresentasikan nilai kehormatan, kecerdasan, serta keteguhan prinsip. Ungkapan indung tunggul rahayu, bapa tangkal darajat menegaskan peran sentral perempuan sebagai penjaga harmoni keluarga dan masyarakat. Bahkan dalam sejarah Kerajaan Galunggung, perempuan tercatat dapat menjadi resi atau pemimpin spiritual—sebuah indikasi adanya praktik kesetaraan gender yang kerap disebut sebagai “feminisme Sunda kuno”.

Namun, dinamika sejarah membawa perubahan signifikan terhadap konstruksi tersebut. Masuknya pengaruh feodalisme Mataram, interpretasi keagamaan yang cenderung patriarkis, hingga kolonialisme, perlahan menggeser posisi perempuan. Peran perempuan semakin dibatasi dalam ranah domestik melalui konsep macak, manak, masak, sementara laki-laki mendominasi ruang publik dan pengambilan keputusan.

Dalam konteks kontemporer, pola patriarki tersebut tidak hilang, melainkan bertransformasi dalam bentuk yang lebih kompleks, termasuk dalam sistem kapitalis modern. Perempuan Sunda kini menghadapi berbagai tantangan seperti beban ganda antara peran domestik dan publik, kesenjangan ekonomi, kekerasan berbasis gender, serta stigma sosial terhadap perempuan yang keluar dari norma—baik sebagai pekerja profesional, seniman, maupun individu dengan pilihan hidup yang berbeda.

Di era globalisasi dan digitalisasi, citra perempuan Sunda mengalami lapisan kompleksitas baru. Figur Mojang Priangan kerap ditampilkan sebagai representasi ideal: anggun, ceria, modis, dan adaptif terhadap zaman. Namun di balik konstruksi tersebut, terdapat tekanan standar kecantikan global yang semakin kuat, termasuk pengaruh budaya populer dan media sosial, yang seringkali berbenturan dengan nilai lokal serta ekspektasi sosial yang masih patriarkal.

Situasi ini menegaskan urgensi untuk merumuskan kembali citra perempuan Sunda yang lebih utuh dan berdaya. Citra tersebut tidak lagi dipahami secara dikotomis—antara tradisional dan modern, domestik dan publik—melainkan sebagai identitas hibrida yang berakar pada nilai luhur Sunda seperti silih asah, silih asuh, dan silih asih, sekaligus responsif terhadap tantangan zaman.

Isu-isu strategis yang perlu dibahas meliputi: tingginya angka kekerasan berbasis gender di Jawa Barat, upaya menyeimbangkan peran domestik dan publik tanpa harus saling menegasikan, pemanfaatan media sosial dan seni sebagai ruang ekspresi dan resistensi, serta penguatan kepemimpinan perempuan berbasis kearifan lokal.

Perempuan Sunda hari ini berada dalam proses “mengayuh cita” di tengah arus yang tidak sederhana—antara pelestarian nilai budaya, tekanan patriarki, stigma sosial, dan dorongan emansipasi. Diskusi ini menjadi ruang refleksi sekaligus formulasi, untuk membangun postur citra perempuan Sunda sebagai subjek yang sadar, mandiri, berdaya, dan tetap selaras dengan nilai-nilai leluhur. (Ckr03/red)