Lanskap, Jakarta – Kasus campak di Indonesia kembali menjadi sorotan setelah meningkat signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Berdasarkan data World Health Organization (WHO), Indonesia mencatat lebih dari 17.000 kasus sepanjang 2025 dan menempati posisi kedua terbanyak di dunia.
Tren ini masih berlanjut di 2026, dengan ribuan kasus terkonfirmasi dan suspek yang dilaporkan oleh pemerintah. Kondisi ini menunjukkan bahwa campak bukan lagi sekadar penyakit anak-anak, melainkan ancaman serius lintas generasi.
Campak dikenal sebagai penyakit yang sangat menular. Dengan tingkat penularan 12 hingga 18 kali lipat lebih tinggi dibanding influenza, satu penderita dapat menularkan virus ke banyak orang dalam waktu singkat. Virus ini bahkan dapat bertahan di udara hingga dua jam di ruang tertutup.
Menurut dr. Nina Dwi Putri dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), peningkatan mobilitas masyarakat seperti saat Lebaran dan aktivitas sekolah dapat mempercepat penyebaran virus. Ia juga menyoroti risiko serius berupa immune amnesia, yaitu kondisi ketika sistem kekebalan tubuh “lupa” terhadap penyakit lain setelah seseorang terkena campak.
“Setelah sembuh, anak justru bisa lebih rentan terhadap infeksi lain,” jelasnya.
Yang mengkhawatirkan, sekitar 8% kasus kini terjadi pada orang dewasa. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), kelompok berisiko tinggi meliputi tenaga medis, pelancong, hingga individu dengan penyakit kronis.
Dr. dr. Sukamto Koesnoe dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia menegaskan pentingnya vaksinasi MMR untuk mencegah komplikasi berat serta mencapai kekebalan kelompok hingga 95%.
Pemerintah dan organisasi medis pun mengimbau masyarakat untuk melengkapi imunisasi, baik pada anak maupun dewasa. Langkah ini dinilai krusial untuk mencegah lonjakan kasus yang lebih luas. (Red)

