Lanskap, Bogor – Usia 79 tahun bukan sekadar angka bagi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ia adalah perjalanan panjang tentang pengabdian, perjuangan nilai, dan konsistensi kader dalam merawat cita-cita kebangsaan. Di momentum Dies Natalis ke-79, refleksi itu dituangkan melalui sebuah puisi berjudul “Berkhidmat untuk Negeri”, yang menggambarkan perjalanan kader HMI layaknya aliran air dari satu mata air menuju berbagai muara kehidupan.
Puisi ini memotret bagaimana satu sumber kaderisasi dapat melahirkan ribuan kemungkinan. Seperti air yang mengalir, ada yang menjadi sungai kehidupan, memberi manfaat bagi masyarakat. Namun ada pula yang terjebak di kubangan, kehilangan arah, bahkan menguap tanpa jejak.
Metafora tersebut menjadi pengingat bahwa setiap kader HMI membawa tanggung jawab moral. Dari rahim perkaderan, lahir generasi muda yang diharapkan menjadi tulang punggung bangsa—hadir sebagai agent of change, penjaga nilai, sekaligus pelayan umat.
Tidak semua jalan mudah. Dalam dinamika zaman, kader dihadapkan pada pilihan: tetap istiqamah menjaga marwah perjuangan atau tergelincir oleh kepentingan sesaat. Mereka yang setia pada nilai dasar organisasi diibaratkan bunga-bunga harum yang mengharumkan Ibu Pertiwi. Sementara yang mengkhianati, perlahan hilang dari makna sejarah.
Lewat karya reflektif ini, HMI menegaskan kembali jati dirinya—bahwa pengabdian tak berhenti pada slogan. Ia hidup dalam tindakan nyata, dalam kerja-kerja sosial, intelektual, dan kemasyarakatan yang terus mengalir memberi manfaat.
Sebagaimana air yang menemukan muaranya, 79 tahun perjalanan HMI adalah tentang satu tujuan: berkhidmat untuk negeri.
Berkhidmat untuk Negeri
Dies Natalis ke-79 HMI
Satu mata air
Seribu sungai
Sejuta selokan
Begitu ruah kemungkinan
Dari mata air ini
Ada yang terjebak di kubangan
Ada yang mengalirkan kehidupan
Dari mata air ini
Menjelma menjadi darah juga nanah
Menjadi berjuta wujud
Yang membangun kehidupan
Juga menjadi sumber kematian
Hingga sampai di muara dan lautan
Muara dari gerbang pengabdian
Menuju keluasan lautan kemaslahatan
Atau berhenti di selokan kotor
Kubangan hitam yang cemar
Juga menguap tanpa jejak
Menjadi hujan asam
Begitulah HmI
Dari rahim perkaderannya
Terlahir beribu kaum muda
Yang menjadi tulang punggung bangsa
Berpadu di tengah dinamika realitas
Membawa misi yang tak pernah tuntas
Mereka tumbuh dan bermekaran
Menjadi melati, mawar atau bunga bangkai
Siapa yang konsisten menjaga nilai dasar perjuangan
Siapa yang Istiqomah menepati janji
Merekalah para pejuang dan pengabdian sejati
Bunga-bunga yang mengharumkan ibu pertiwi
Siapa yang berani menghianati
Marwah organisasi
Mereka akan tersesat
(Heri Cokro)
HMI, 79 tahun berkhidmat untuk negeri. (Asm)



