Lanskap, Bogor — Sawit Academy EPS. USU yang diselenggarakan oleh PT Hai Sawit Indonesia dan didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menghadirkan sudut pandang akademik yang komprehensif mengenai peran sawit dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini mendorong mahasiswa melihat industri kelapa sawit tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga melalui pendekatan ilmiah dan data global.
Dosen Program Studi S1 Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU), Nursa’adah, S.ST., M.Agr., dalam sesi bertajuk “Sawit di Mata Kampus: Perspektif Ilmiah untuk Membentuk Cara Pandang Generasi Muda”, mengajak mahasiswa memulai dari pertanyaan mendasar: seberapa dekat sawit dengan kehidupan kita?
Ia memaparkan posisi sawit dalam konsumsi minyak nabati dunia sekaligus menegaskan Indonesia sebagai produsen terbesar global, berdasarkan data Kementerian Pertanian RI (2024) dan statistik internasional. Menurutnya, pemahaman terhadap sawit harus dilakukan secara menyeluruh, termasuk mengkaji isu-isu yang kerap dikaitkan dengan industri ini seperti deforestasi, perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga tata kelola dan praktik budidaya.
Nursa’adah menjelaskan, berdasarkan data periode 1990–2018, sebagian besar ekspansi perkebunan sawit di Indonesia berasal dari lahan terdegradasi, bukan dari hutan primer yang tak terganggu. Hal ini menunjukkan pentingnya membaca data secara utuh sebelum membentuk opini.
Ia menegaskan bahwa mahasiswa harus menjadi agen pengetahuan yang kritis dan berbasis sains. Kampus, menurutnya, merupakan ruang netral untuk menguji informasi secara objektif dan akademik. Generasi muda pun dinilai memiliki peran strategis dalam menentukan masa depan sawit Indonesia melalui praktik pengelolaan yang berkelanjutan.
Kegiatan yang didukung BPDP ini menjadi bagian dari penguatan literasi sawit berbasis akademik sekaligus mendorong lahirnya generasi muda yang solutif dan berorientasi pada keberlanjutan. (Hnd)



