Lanskap – Salam kenal, semuanya. Namaku Narvella Lazendra, tapi dia terbiasa memanggilku Vella. Sejak kecil, aku sangat suka menulis cerita. Sampai suatu hari, dia memintaku untuk membuat sebuah novel. Saat itu, aku masih anak kecil berusia 10 tahun, dan tentu saja aku merasa bingung.
“Apakah aku sanggup?”
Oh iya, namanya Nathania Arvalia. Nathania adalah sahabatku, dan orang yang paling aku sayangi setelah kedua orang tuaku.
Aku akan menceritakan sedikit tentang apa yang dia katakan padaku hari itu.
Flashback on
Hari itu, langit terlihat sangat cerah. Matahari bersinar hangat, menerangi ruang kelas V-A. Aku dan Nathania duduk bersebelahan di bangku belakang. Cahaya dari jendela memantul lembut di matanya.
Aku menyandarkan kepalaku di atas meja, menunggunya membaca sepenggal cerita yang ku tulis semalam. Dia tampak begitu serius. Sesekali alisnya terangkat, membuatku semakin penasaran dengan apa yang sedang ia pikirkan.
Tak lama kemudian, dia menoleh dan berkata dengan nada lembut. “Vella, tulisan kamu bagus banget. Kenapa kamu nggak coba buat novel? Aku yakin, pasti banyak yang akan baca.”
Dia mengembalikan buku itu padaku, lalu mengelus rambut hitamku yang diikat dua. “Aku bakal dukung kamu. Kalau kamu butuh bantuan, bilang aja, ya.”
Aku hanya tersenyum kecil. “Makasih, Nathania.”
Aku tidak mengatakan apa-apa lagi. Pandanganku beralih ke jendela. Di lapangan, anak-anak kelas IV-A dan IV-B sedang berolahraga dengan riang.
Nathania kembali membuka buku pelajarannya, lalu berkata lagi, “Aku tahu kamu belum percaya diri. Tapi, Vella, kamu punya bakat jadi penulis. Aku yakin, suatu hari nanti kamu bakal jadi penulis hebat.”
Dia berhenti sejenak, lalu menatapku. “Kamu bisa mulai dari cerita pendek dulu. Aku bakal bantu kamu.”
Aku menoleh dan menatap matanya. Senyumnya lembut, tapi penuh keyakinan. Aku kembali melihat buku di tanganku. “Oke, aku akan coba.”
Flashback off
Aku tahu, menjadi penulis itu tidak mudah. Dan memang benar, menjadi penulis bukan sekadar menulis cerita lalu dibaca orang lain. Menjadi penulis adalah sebuah identitas. Sebuah perjalanan panjang yang harus dilewati dengan usaha, keraguan, dan keberanian.
Sejak hari itu, aku mulai lebih serius dan semakin sering menulis cerita. Namun, ada kalanya aku merasa buntu, tidak tahu lagi harus menulis apa. Dalam kata lain, aku kehabisan ide.
Di saat seperti itu, Nathania selalu ada. Saat dia senggang, dia akan menemaniku, membantu menyusun kata demi kata, merangkai kalimat demi kalimat.
Hari demi hari pun berlalu. Hingga akhirnya, hari kenaikan kelas tiba. Kini, aku berusia 11 tahun, duduk di bangku kelas enam SD.
Tak lama setelah Nathania mengadakan pesta ulang tahun kecil di rumahnya, keluarganya memutuskan untuk pindah. Katanya, rumah yang mereka tempati akan direnovasi oleh pemiliknya.
Aku hanya mengangguk, berusaha terlihat biasa saja. “Semuanya akan baik-baik saja,” kataku waktu itu. Namun kenyataannya, hari-hari terasa berbeda. Aku semakin jarang bertemu dengannya.
Beberapa hari sebelum kelulusan, akhirnya aku berhasil menyelesaikan karya pertamaku. Sebuah cerita pendek. Judulnya, “Sahabatku adalah Inspirasiku.”
Aku ingin sekali memberitahunya. Tapi setiap kali aku mencoba, dia selalu sibuk.
Hari kelulusan pun tiba. Aku berdiri di depan kelas, menunggunya keluar. Dan seperti biasa, dia tetap terlihat cantik dan hangat.
“Nathania,” panggilku pelan.
Dia menoleh, lalu tersenyum manis. “Vella! Aku kangen banget sama kamu!”
Dia langsung memelukku erat. Aku membalas pelukannya. Hangat dan akrab. Seolah tidak ada yang berubah. Setelah kami melepaskan pelukan, aku menyerahkan sebuah buku tipis padanya.
Dia menerimanya dengan penasaran, lalu melihat nama penulis di sampulnya. Beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah. Matanya berbinar. Dia tersenyum lebar, lalu kembali memelukku.
“Aku bilang juga apa?” katanya penuh semangat. “Kamu itu hebat banget, Vella. Aku bangga sama kamu.”
Aku tersenyum kecil. “Itu semua, juga berkat dukungan kamu.”
Aku ingin memeluknya lebih lama. Namun, suara orang tua Nathania memanggilnya. Dia melepaskan pelukan itu dengan enggan. “Aku pulang dulu ya, sampai ketemu nanti.”
Langkahnya perlahan menjauh. Sebelum dia benar-benar hilang dari pandanganku, aku memanggilnya.“Nathania!”
Dia menoleh. Aku menarik napas, lalu berkata dengan penuh keyakinan. “Aku janji, suatu hari nanti aku bakal bikin novel. Dan kamu akan jadi orang pertama yang membacanya. Aku pastiin novel itu selesai sebelum umurku 17 tahun!”
Dia tertawa kecil. Wajahnya tampak begitu bahagia. “Oke! Aku tunggu ya! Jangan ingkar janji, loh!”
Aku tersenyum lebar, melambaikan tanganku. Dia membalas lambaian itu, lalu berbalik pergi. Aku tidak tahu, bahwa itu adalah terakhir kalinya aku melihatnya.
Tak lama, ibuku datang, dan aku pun pulang bersamanya. Kata “sampai ketemu nanti” itu,
ternyata tidak pernah benar-benar terjadi.
Hari-hari berlalu. Kesibukanku sebagai pelajar SMP, dan kesibukannya sendiri, membuat kami semakin jarang berkomunikasi.
Aku sempat kehilangan semangat. Menulis tidak lagi terasa sama. Namun kemudian, aku teringat satu hal, janji yang pernah aku ucapkan padanya hari itu. Akhirnya, aku mencoba menulis lagi.
Bukan cerita pendek. Bukan juga novel. Melainkan sebuah puisi, yang bahkan aku sendiri tidak tahu apakah itu benar-benar bisa disebut puisi atau tidak.
Dear Nathania
Dia baik, dia cantik_
Dan dia terlihat memiliki segalanya
Tapi dibalik sosoknya yang terlihat sempurna
Tersimpan rahasia yang tidak diketahui orang lain
Apa kamu ingin tahu siapa dia?
Dia adalah sahabat masa kecilku
Yang telah lama pergi dari sisiku
Tanpa aku ketahui
Dalam kehidupan yang kini kujalani
Aku berharap bisa bertemu dengannya
Sebelum semuanya berakhir
Dan sebelum tragedi itu terjadi
Aku termenung. “Tragedi apa yang dimaksud puisi ini?”
“Narvella! Jangan ngelamun terus! Kalau kamu kesurupan gimana?” tanya temanku.
Aku menutup buku pelajaran ku. “Berisik,” jawabku ketus dan berjalan menghampirinya. Dia tersenyum lebar. “Siapa suruh bengong mulu, lagi mikirin apa sih? Serius banget kayaknya.”
“Nggak mikirin apa-apa.”
“Bohong, atau, jangan bilang kamu lagi mikirin Nandi?”
“Renandi maksudnya?”
“Iyalah, siapa lagi?”
Aku mendengus kesal. Jelas-jelas bukan dia yang sedang aku pikirkan. Sepertinya terjadi kesalahpahaman disini. Renandi itu temanku juga, tapi karena akhir-akhir ini kami sering terlihat bersama, Narisa mengira aku memiliki hubungan spesial dengannya.
Padahal dia itu kakak sepupuku. Mana mungkin juga aku suka sama dia. Sekarang, aku hanya ingin fokus menyelesaikan novel ku kayak apa yang aku janjikan ke Nathania dulu.”Aku nggak mikirin dia.”
Aku tidak mengatakan apa-apa lagi dan berjalan pergi meninggalkannya. Narisa mengekor di belakang. Aku dan dia berjalan menuju rumah kami yang berdiri bersebelahan. Dia tinggal di rumah tempat Nathania tinggal dulu. Tempat itu menyimpan banyak kenangan indah yang tidak ingin aku lupakan.
Sesampainya di depan rumah, aku berhenti melangkah dan membalas lambaian tangan Narisa. Saat sosok Narisa menghilang di balik pintu rumahnya, aku memasuki rumahku dan langsung masuk ke kamar. Aku menggantung tas di dinding dan mengganti seragamku dengan kaos dan celana panjang.
Ayah dan ibuku tidak ada di rumah hari ini, dan artinya aku bebas melakukan apapun. Tapi hari ini rasanya malas sekali bahkan untuk sekadar pergi mandi. Aku merebahkan diriku di atas kasurku yang lembut. Menatap langit-langit kamar yang dihiasi oleh ornamen berbentuk bintang-bintang yang bergelantungan.
“I miss you, Nathania. I almost forgot your face if you hadn’t come to my dream last night. I want to see you again, even if only for a moment.”
“Aku merindukanmu, Nathania. Aku hampir lupa wajahmu jika kamu tidak muncul dalam mimpiku semalam. Aku ingin bertemu denganmu lagi, meskipun hanya sesaat.”
Saat ini, aku sedang duduk di kursi belajar ku. Buku harian terbuka lebar di atas meja. Aku mulai menulis kata demi kata. Menghapusnya lalu menulisnya lagi. Ingin tahu apa yang aku tulis? Baiklah, aku akan memberitahu kalian.
“Hujan deras turun mengguyur kota Bogor. Membasahi jalanan beraspal. Gadis itu duduk di kursi halte. Menunggu sosok sang ayah yang tidak kunjung datang. Berjam-jam ia menunggu tanpa kepastian. Tak lama, datang seorang gadis seusianya. Gadis itu menyapa dengan nada lembut.
“Loh? Vella? Kamu ngapain disini?”
Gadis yang dipanggil Vella itu mendongak. Betapa terkejutnya ia saat melihat sahabat masa kecilnya berdiri di hadapannya. Bertahun-tahun ia berharap takdir akan mempertemukan mereka kembali. Hari ini, tepat 4 tahun. Akhirnya ia melihat wajah yang dirindukannya dalam diam.
“Nathania?”
Guntur menyambar. Nathania tersentak pelan. “Ah iya, ini aku. Kamu ngapain disini?” tanyanya ulang dan duduk di samping Narvella.
“Aku lagi nunggu ayah.”
Nathania mengangguk mengerti. Narvella mengalihkan pandangannya dan menatap langit mendung. Ada banyak sekali hal yang ingin ia ceritakan. “Gimana kabar kamu?”
“Aku baik, kamu sendiri gimana?”
Narvella tersenyum tipis. “Aku juga baik.”
Hening menyapa. Hujan turun semakin deras. Narvella kemudian bertanya. “Kamu ngapain disini?”
Nathania menjawab tanpa menoleh. “Duduk.”
Senyum tipis kembali terbit di bibir Narvella. “Maksudnya, kamu nungguin siapa?”
“Hujan reda.”
“Nathania, aku serius, loh.”
Gadis itu tersenyum. Namun, ada yang salah. Itu bukan senyuman yang Narvella kenal. Senyuman itu asing. “Kamu nggak apa-apa?”
Guntur menyambar lebih keras. Suara itu mengagetkan Narvella hingga ia terjungkal kebelakang. Pandangannya mendadak kabur. Sosok Nathania tidak lagi terlihat jelas. Sampai tepukan lembut di bahu menyadarkannya.
Aku tersentak pelan. Aku mengangkat kepalaku dari atas meja. Menatap ibu yang berdiri di sampingku. “Ibu?”
Kemudian aku tersadar, “tadi itu cuma mimpi ya?
Ibuku menegur. “Jangan tidur sore, nggak baik. Cuci muka sana, sholat Maghrib dulu.”
Aku mengangguk dan berjalan ke kamar mandi. Ibu merapihkan meja belajarku yang berantakan. Buku diary ku yang terbuka lebar menarik perhatiannya. Tanpa mengatakan apapun ibu menutup buku diary ku dan menyimpannya di laci meja.
Pintu kamar tertutup rapat saat aku keluar dari kamar mandi dengan wajah basah. Aku menatap meja belajarku. Tak ingin membuang waktu, aku segera melaksanakan sholat Maghrib. Selesai sholat aku kembali duduk di kursi belajar dan membuka buku diary ku.
Ternyata, itu memang hanya mimpi. Aku terdiam, sepertinya itu bukan ide buruk. Aku menulis ulang adegan yang ada didalam mimpiku. Kemudian aku berhenti, kenapa Nathania dalam mimpi itu terlihat begitu aneh?
Bau obat-obatan khas suasana kamar rumah sakit menyadarkan gadis itu. Matanya terbuka perlahan. Infus terpasang di tangan kanannya. Saat ia menoleh ke samping, berdiri sosok ayah dan ibunya yang menatapnya dengan tatapan khawatir. “Yah, Bu, kenapa aku disini?”
Ayah memeluknya dan mengelus kepalanya. “Kamu pingsan, nak. Maafkan ayah karena terlambat jemput kamu.”
Gadis itu terdiam, “Selain aku, ayah lihat orang lain gak?”
Ayah melepaskan pelukan dan bertanya bingung. “Ada orang lain? Ayah nggak lihat siapa-siapa selain kamu. Ah iya, sepertinya ayah melihat ada penjual siomay dan gerobaknya di sana.”
Gadis itu menggelengkan kepalanya. “Bukan, ayah. Yang aku maksud itu, apa ayah melihat seorang gadis seusiaku?”
“Nggak ada, cuma ada kamu sama penjual siomay di halte itu. Kamu lihat siapa, nak?”
“Aku ketemu sama sahabat ku, yah.”
“Namanya?”
“Arvalia.”
Ayah dan ibu saling pandang. “Maksud kamu, Arvalia yang itu?”
“Iyalah, ayah. Yang namanya Arvalia di hidup aku kan cuma satu. Kenapa emangnya?”
Ibu menatapnya dengan tatapan sendu. “Dia sudah lama meninggal, nak.”
Gadis itu tersentak. “Nggak mungkin! Maksud ibu apa? Jelas-jelas aku lihat dia tadi! Aku bukan anak indigo, bu. Kalau itu bukan dia, terus siapa?”
Dadanya terasa sesak. Rasanya oksigen di kamar rumah sakit itu tersedot habis. Ibu mencoba menenangkannya dan membacakan sholawat di telinganya. Tanpa bisa dicegah, bulir bening jatuh ke pipi. Isakan lirih terdengar dari sela bibirnya yang terbuka.
Ayah dan ibu memeluknya. Pelukan itu hangat tapi jauh di lubuk hatinya, kehangatan itu tidak mampu mengusir rasa kehilangan yang mengakar kuat. “Apa maksudnya ini?”
Bulir bening jatuh membasahi buku diary itu. Seketika aku tersadar dan mengusap pipiku yang basah. “Kenapa aku nangis?” tanyaku.
Aku menatap buku diary ku dan membaca kata demi kata. “Kapan aku nulis ini? Oke, ini mulai nggak masuk akal. Kenapa aku nangis? Kapan aku nulis ini?”
Aku mengacak-acak rambutku. Aku benar-benar bingung sekarang. “Padahal aku cuma mau nulis cerita tentang persahabatanku dan Nathania, tapi kenapa tiba-tiba Arvalia mati ya? Perasaan alurnya nggak kayak gini, deh.”
Adzan Isya berkumandang. Aku melihat jam di dinding. “Udahlah, mending aku sholat isya dulu aja. Siapa tahu dapet ide tambahan. Kalau nggak, bisa-bisa aku nggak bisa tidur karena kepikiran terus.”
Aku berjalan ke kamar mandi. “Kayaknya aku cuma bisa ngikutin alur yang udah ada. Kalau Arvalia mati, genre nya juga harus di ubah dong? Masa jadi misteri/thriller sih? Nggak mau ah, terlalu ribet. Tapi dia kan juga tokoh utama, aneh gak sih kalau kematian tokoh utama nya nggak di ceritain?”
Aku menyalakan keran dan mencuci mukaku dengan sabun cuci muka. Muka berbusa ku terpampang di cermin yang menempel di tembok kamar mandi. Pikiranku berputar-putar ke sana kemari. Healing diam-diam. Aku membilas mukaku dengan air sampai bersih. Mengambil wudhu dan keluar dari kamar mandi.
Sajadah di hamparkan di atas karpet putih. Mukena di kenakan. Ruangan kembali sunyi. Setelah mengucap salam, aku tidak langsung berdiri dan melepas mukena. Melainkan berdoa kepada Allah agar aku diberikan banyak ide tentang alur cerita novel yang sedang aku buat sekarang.
“Ya Allah, hamba mohon padamu ya Allah, tolong limpahkanlah ide-ide brilian tentang alur cerita yang sedang hamba ciptakan. Sungguh, hamba benar-benar tidak tahu harus apa lagi jika hamba tidak meminta bantuan kepadamu ya Allah. Aamiin ya rabbal alamiin.”
Aku melepas mukena dan melipat sajadah. Menyimpannya di atas tempat tidur. Aku kembali duduk dan berkutat dengan buku diary ku sampai tengah malam. Andai aku tidak menyalakan alarm malam, mungkin aku akan terus berkutat dengan buku diary ku sampai pagi.
“Arvalia, Nathania Arvalia, itu kan nama belakang Nathania. Gimana keadaan Nathania sekarang ya?” Aku menatap ke arah jendela kamar yang tertutup rapat. Tirai jendela bergoyang pelan tertiup angin malam yang menyusup lewat celah-celah kecil.
Aku menopang dagu. Pikiranku melayang jauh. “Nathania,” aku menghela nafas berat. “Aku pengen tahu, apa kamu juga kangen aku?”
Aku kembali teringat pada apa yang aku tulis tanpa sadar di buku diary ku yang masih terbuka itu. “Sebenarnya, kenapa? Kenapa Nathania Arvalia dalam cerita aku mati? Apa Nathania Arvalia dalam hidup aku juga udah pergi ninggalin dunia ini?” aku terkekeh pahit.
“Nggak, pasti ini karena aku masih terbawa suasana. Nathania nggak akan ninggalin aku secepat ini. Itu cuma mimpi, Narvella. Itu cuma mimpi! Kamu cuma kecapean makanya mikir yang nggak-nggak!”
Aku menatap buku diary ku dengan tatapan kosong. Kenapa perasaan buruk ini tidak kunjung hilang? Apa Nathania dalam hidupku sudah pergi? Kalau itu benar, kenapa aku tidak tahu apa-apa? Apa ibu dan ayah tahu tentang ini?

Rananzy Ninxy Halstera adalah pelajar SMA yang aktif menulis cerita fiksi remaja dengan sentuhan emosional dan inspiratif. Ia bercita-cita menjadi penulis novel yang karyanya dapat menyentuh hati banyak orang. (Red)

