Sahabatku Adalah Inspirasiku (Chapter 1 bagian 6)
Lanskap – Langkahku berhenti di depan pintu rumah yang terbuka lebar. Aku melirik ke halaman rumah yang dipenuhi oleh motor dan mobil. “Kayaknya hari ini bakalan berat banget,” gumamku. Kenapa berat? Karena aku jadi tidak bisa fokus menulis lanjutan ceritaku. Alasannya? Tentu saja karena berisik. Meskipun kamarku berada di lantai dua, tetap saja akan terdengar sampai atas.
Siluet seorang gadis terlihat begitu aku hendak melangkah. Kami saling pandang. Wajah gadis itu, tidak banyak berubah dari terakhir kali kami bertemu. “Nathania?”
Gadis yang aku panggil Nathania itu tersenyum. “Aku bukan Nathania, Narvella.”
Aku menggaruk belakang leherku yang tidak gatal. “Begitu, ya? Lalu, kamu siapa?”
“Aku kakaknya,” ia mengulurkan tangannya. “Salam kenal, namaku Nathalia Arvelina.”
Aku menerima uluran tangannya. “Aku Narvella Lazendra. Senang bertemu denganmu, Kak Nathalia.”
Nathalia melepaskan uluran tangan kami. Ia mengangguk sopan. “Jangan terus berdiri di luar, masuklah.”
Aku mengangguk dan melangkah masuk.
“Oh iya, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu. Ini tentang adikku, Nathania.”
Aku berhenti melangkah, aku membalikkan badanku dan menatap wajahnya yang begitu mirip dengan wajah Nathania. “Apa dia baik-baik saja?”
Nathalia memperhatikan raut wajahku dengan seksama. Aku berusaha untuk tetap tenang meskipun rasanya jantungku akan keluar begitu mendengar bahwa Nathalia ingin menyampaikan sesuatu tentang Nathania. Tapi kenapa Nathania tidak ikut? Apa dia baik-baik saja? Aku menggelengkan kepalaku, jangan overthinking duluan.
Nathalia tersenyum tipis. “Bisa kita bicara di tempat lain?”
Seketika aku tersadar, aku balas tersenyum tipis. “Ikuti aku,” pintaku dan berjalan lebih dulu.
Kami berhenti di samping rumahku tempat aku biasanya merenung atau sekadar mencari udara segar di malam hari. Aku dan Nathalia duduk di ayunan tua yang ada di sana. Kami menikmati semilir angin yang bertiup pelan. Meskipun saat ini sudah memasuki tengah hari, matahari tidak bersinar terlalu terik sampai aku harus menyipitkan mataku.
“Kamu mau ngomong apa?” tanyaku tanpa menatapnya.
“Nathania dirawat di rumah sakit,” ia menatapku. “Dia ingin bertemu denganmu, Narvella. Dia takut dia akan pergi lebih dulu tanpa sempat menemui kamu.”
Ia melanjutkan, sorot matanya berubah sendu. “Tujuanku datang ke sini hari ini juga untuk menjemput kamu. Aku mohon, Narvella. Kamu mau kan ikut aku dan jenguk Nathania? Aku memang bukan kakak yang baik, tapi aku akan membantunya semampuku saat dia butuh bantuanku.”
Kepalaku tertunduk menatap tanah yang diselimuti oleh rumput hijau. Kawanan semut lewat di dekat sepatu yang aku kenakan. Bersalaman dan saling meminta maaf. Salah satu dari para semut itu mencuri remahan makanan yang tergeletak begitu saja di atas tanah.
“Oke, aku ikut.”
Senyum manis merekah di bibir Nathalia. “Dia beruntung karena memiliki sahabat sepertimu, Narvella. Aku ikut senang karena adikku memiliki seseorang yang begitu peduli padanya meski sudah lama tidak bertemu.”
Aku mengangkat kepalaku, “haruskah kita pergi sekarang?”
Nathalia beranjak dari duduknya dan mengulurkan tangannya padaku. “Lebih cepat lebih baik.”
Aku menerima uluran tangannya dan berjalan memasuki rumah. “Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam.”
Aku berjalan menghampiri ayah dan ibu yang sedang duduk di ruang tamu, mencium tangan mereka berdua. Tak lupa juga aku mencium tangan para tamu dan berjalan menaiki anak tangga menuju kamarku. Nathalia duduk di salah satu sofa, ikut nimbrung dalam pembicaraan dan meminta izin untuk membawaku bersamanya untuk menemui Nathania.
Aku membuka pintu kamarku, berjalan masuk dan menaruh tas di atas meja belajar. Aku melepas sepatu dan kaos kaki dan berjalan masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Tak lama aku keluar dengan wajah basah. Mengenakan mukena dan menghamparkan sajadah.
Selesai mengucap salam, aku berdoa kepada Allah agar perjalanan ku lancar dan semoga Nathania baik-baik saja di sana. Aku melepas mukena dan melipat sajadah. Menggantungkannya di balik pintu kamar. Aku kembali mengenakan kaos kaki dan sepatu dan menggendong tasku di punggung.
Aku mencuci kedua tanganku di wastafel kecil yang berada di sudut kamar. Setelah selesai, aku berjalan keluar kamar dan menutup pintu. Melangkah cepat menuju lantai satu tempat Nathalia menunggu. Sesampainya di sana aku berpamitan pada ayah dan ibu bahwa aku akan ikut Nathalia untuk menjenguk Nathania di rumah sakit.
Ayah dan ibu mengangguk setuju dan berkata bahwa Nathalia sudah meminta izin mereka lebih dulu. Aku menatap Nathalia dan dia membalas tatapanku dengan anggukan kepala. Aku mencium tangan kedua orangtuaku dan para tamu. Tanpa berlama-lama aku segera berjalan menuju pintu diikuti oleh Nathalia.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam.”
Nathalia berjalan mendahuluiku dan membuka pintu penumpang samping kemudi. “Silahkan masuk.”
“Makasih,” ucapku setelah masuk dan duduk dengan tenang.
Nathalia hanya tersenyum tipis dan berjalan memutar, membuka pintu satunya dan duduk di balik kemudi. Klakson mobilnya terdengar ketika meninggalkan gerbang rumah. Melaju stabil di jalanan beraspal menuju jalan raya kota Bogor yang ramai oleh kendaraan roda dua, tiga dan empat.
Mobil yang aku tumpangi melaju kencang membelah jalanan tol yang sepi kendaraan, menuju rumah sakit besar yang berdiri megah di tengahnya keriuhan kota. Aku menatap keluar jendela kaca mobil yang terbuka separuh. Bangunan-bangunan arsitektural mulai terlihat begitu mobil keluar dari jalan tol.
Bangunan rumah sakit yang berdiri megah itu terlihat dari kejauhan. Nathalia melajukan mobilnya memasuki parkiran mobil. Mematikan mesin dan berjalan keluar dengan kunci mobil di tangan. Aku membuka pintu dan turun dari mobil. Menutup pintu dan mengikuti langkahnya memasuki lobi rumah sakit yang ramai.
Aku dan Nathalia berjalan menuju lift, masuk dan menekan angka 5. Pintu lift tertutup. Di sana hanya ada aku dan Nathalia. Lift berhenti ketika angka mencapai angka lima. Pintu lift terbuka perlahan. Aku dan Nathalia berjalan keluar menyusuri lorong yang lengang.
Langkah kami berhenti di depan pintu kamar bernomor 355 dengan nama Nathania Arvalia. Jantungku berdegup kencang, bukan karena jatuh cinta tapi karena rasa khawatir yang menggerogoti dan perasaan rindu yang selama ini aku kubur dalam-dalam.
Nathalia menoleh ke arahku, bertanya dengan senyum hangat. “Apa kamu siap, Narvella?”
Aku menyentuh dadaku, mencoba mengatur nafasku yang memburu. “Sebentar, tolong kasih aku waktu.”
Nathalia mengangguk pelan. Kami berdiri di depan pintu untuk beberapa saat sampai aku siap. Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Mengusap wajahku dan berdoa.
“Aku siap,” ucapku dan menatap jauh ke dalam pintu kamar yang tertutup rapat.
Nathalia mengulurkan tangannya, menarik gagang pintu ke bawah. Pintu terbuka perlahan, aroma obat-obatan tercium lebih pekat dari lorong rumah sakit itu sendiri. Nathalia mempersilahkan aku masuk lebih dulu. Pintu tertutup pelan dari arah luar.
Tatapanku beralih ke arah ranjang rumah sakit. Di sana duduk seorang gadis bersurai coklat kayu yang sedang menatap ke luar jendela. Gadis itu menoleh perlahan, wajahnya tidak banyak berubah. Hanya sedikit lebih tirus dan pucat.
Kami saling tatap tanpa mengatakan sepatah katapun. Aku yang sudah menyiapkan banyak kata-kata di kepala mendadak tidak tahu harus mengatakan apa. Semua kata-kata itu hilang begitu saja, menyatu dengan bau obat-obatan yang menguar di udara.

Rananzy Ninxy Halstera adalah pelajar SMA yang aktif menulis cerita fiksi remaja dengan sentuhan emosional dan inspiratif. Ia bercita-cita menjadi penulis novel yang karyanya dapat menyentuh hati banyak orang. (Red)

