Lanskap, Bogor – Forum diskusi kebudayaan Sawala Dasa Wacana kembali menjadi ruang temu gagasan bagi pelaku dan pemerhati seni di Bogor. Digelar di Saung Saidun Hamdanah, Kompleks Edukasi Putra Bangsa, edisi ke-8 forum ini mengangkat tema “Menimbang Atmosfir Kreatif Kesenian Bogor 2025, Menuju Resolusi 2026.”
Diskusi menghadirkan tiga narasumber lintas latar: Putra Gara (Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Bogor), Aan Handayani (musisi dan pegiat seni Kota Bogor), serta Rahmat Iskandar (pemerhati seni budaya dan sejarah Bogor). Forum dipandu oleh Heri Cokro, sekaligus tuan rumah kegiatan.
Sekitar 25 peserta dari berbagai komunitas hadir, mulai dari Bogor Wanita Berkebaya (BWB), KPJ Merdeka Bogor, Komunitas 50+ Cabang Bogor, pewarta media, hingga relawan Daya Putra Bangsa. Diskusi berlangsung dalam format melingkar, cair, dan partisipatif.
Potensi Besar, Ekosistem Rapuh
Dalam pengantarnya, Heri Cokro menekankan bahwa Bogor—sebagai kota penyangga ibu kota dengan akar budaya Sunda yang kuat—memiliki potensi kesenian yang besar. Sepanjang 2025, geliat kreativitas tumbuh dari komunitas, sanggar, hingga ruang-ruang alternatif berbasis warga.
Namun, potensi tersebut dinilai belum terintegrasi dalam ekosistem yang kuat dan berkelanjutan. Minimnya ruang temu, keterbatasan dukungan kebijakan, akses pembiayaan yang sempit, serta lemahnya regenerasi seniman masih menjadi persoalan laten.
“Padahal di era digital, peluang jejaring dan kolaborasi lintas sektor terbuka sangat luas. Yang kita butuhkan adalah keberanian untuk mengelola dan menyambungkannya,” ujar Heri.
Memasuki 2026, ia menilai penting adanya ruang reflektif yang jujur—bukan sekadar merayakan capaian, tetapi juga menimbang kekurangan—agar kesenian dapat menjadi fondasi kebudayaan kota sekaligus daya ungkit ekonomi kreatif.
Kesenian Jangan Sekadar Seremonial
Putra Gara menilai bahwa pertumbuhan komunitas seni di Bogor justru banyak lahir dari ruang-ruang alternatif dan inisiatif mandiri. Semangat kolektif dan eksperimentasi menjadi ciri utama.
Namun, menurutnya, geliat ini masih rapuh. “Keterbatasan ruang berekspresi, minimnya dukungan berkelanjutan, dan belum terbentuknya ekosistem yang berpihak pada proses kreatif membuat kesenian mudah padam,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kecenderungan kesenian yang hanya hadir sebagai agenda seremonial. “Kesenian sering tampil di momentum tertentu, tapi tidak ditopang keberlanjutan bagi kehidupan para pelaku seni. Padahal, kesenian seharusnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat,” tegasnya.
Jarak Seniman dan Birokrasi
Diskusi juga menyingkap jarak antara komunitas seniman dan birokrasi. Relasi keduanya masih dibayangi saling prasangka. Seniman melihat birokrasi kaku dan kurang peka, sementara birokrasi belum sepenuhnya memahami peta potensi kesenian di wilayahnya.
“Sikap saling curiga ini membuat dialog kebudayaan sering berhenti di permukaan,” ujar Prasetya, salah satu peserta. Ia mengingatkan, tanpa keterbukaan dan kepercayaan, kebijakan kebudayaan berisiko lahir tanpa pijakan realitas lapangan.
Seni, Ekonomi, dan Generasi Baru
Dari sudut pandang berbeda, Aan Handayani mengajak peserta membaca fenomena kesenian melalui lensa ekonomi. Menurutnya, eksistensi kesenian hari ini tak lagi semata ditentukan oleh produktivitas dan idealisme, melainkan oleh momentum ekonomi dan media, seperti ajang pencarian bakat di televisi.
Ia juga menyoroti kemunculan generasi baru—khususnya Gen Z—yang berkarya tanpa beban idealisme tradisional. Mereka hadir sebagai selebgram, tiktokers, dan konten kreator, yang diakui sebagai peristiwa seni karena kekuatan viralitas.
“Definisi karya seni sedang berubah. Ia tumbuh dalam beragam bentuk dan menjadi rujukan baru dalam berkarya,” ujar Aan.
Kebudayaan yang Terpinggirkan
Sementara itu, Rahmat Iskandar menyoroti persoalan struktural yang lebih mendasar. Menurutnya, kebudayaan kerap dipinggirkan sejak dini.
“Cita-cita menjadi seniman masih dianggap jalan menuju kemiskinan. Mindset ini terbawa hingga ke pemerintahan, sehingga kebudayaan sering ditempatkan sebagai sektor dengan anggaran minim dan bukan prioritas,” ungkapnya.
Catatan Tanpa Kesimpulan
Sawala Dasa Wacana #8 ditutup tanpa kesimpulan final. Namun satu catatan mengemuka: jika kesenian ingin tumbuh berkelanjutan di Bogor, relasi antara seniman, masyarakat, dan birokrasi harus bergerak melampaui saling menduga, menuju dialog yang terbuka dan saling menguatkan.
Forum ini diposisikan bukan sebagai ruang menghakimi, melainkan ruang refleksi bersama, dengan semangat silih asih, silih asah, silih asuh. (Ckr03)



