EIGER Nature Kembangkan Ekowisata di Megamendung, Pengelola Klaim Tanam 120.000 Pohon
3 mins read

EIGER Nature Kembangkan Ekowisata di Megamendung, Pengelola Klaim Tanam 120.000 Pohon

1 Kali Dibaca

Lanskap.id, Bogor –  EIGER Nature diperkenalkan sebagai destinasi ekowisata di Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kawasan ini menggabungkan kegiatan petualangan, edukasi lingkungan, dan pengembangan ekonomi masyarakat dengan mengangkat tema Menjaga dan Merawat Alam, Bergerak Bersama untuk Indonesia.

Pengembangan destinasi tersebut membawa peluang ekonomi sekaligus tantangan dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyebut EIGER Nature telah mempekerjakan sekitar 600 warga lokal. Jumlah itu ditargetkan meningkat hingga 2.000 orang seiring investasi tahap berikutnya.

“Tadi saya tanya dengan Bapak Ronny Lukito, ada 600 pekerja di sini adalah penduduk setempat dan mudah-mudahan dengan investasi tahap berikutnya bisa mencapai 2.000 orang,” kata Widiyanti dalam peluncuran EIGER Nature di Megamendung, Selasa (27/10/2026).

Pengembangan Wisata dan Ekonomi Lokal

Keterlibatan tenaga kerja setempat menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan EIGER Nature. Selain membuka lapangan kerja, keberadaan destinasi wisata berpotensi menciptakan peluang usaha bagi UMKM, penyedia kuliner, jasa pemandu, serta pelaku ekonomi lain di sekitar kawasan.

Widiyanti menyambut positif pengembangan destinasi berbasis alam dan petualangan. Menurutnya, wisatawan semakin mempertimbangkan pengalaman autentik dan prinsip keberlanjutan dalam memilih perjalanan.

Ia mengutip Indonesia Tourism Outlook 2026–2027, yang menempatkan wisata ramah lingkungan di peringkat ketiga serta wisata alam dan petualangan di posisi kelima dalam lima tren utama pariwisata Indonesia.

Adapun Agoda Sustainable Travel Survey 2026 menunjukkan 93 persen wisatawan Indonesia mempertimbangkan aspek keberlanjutan ketika menentukan pilihan perjalanan.

Pengelola Sebut Telah Menanam 120.000 Pohon

CEO EIGER Nature Ronny Lukito mengatakan, pengembangan kawasan dilakukan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan. Ia menyebut area yang digunakan untuk pembangunan saat ini sekitar 1,5 persen, sedangkan ketentuan pemanfaatan yang berlaku, menurut keterangannya, memungkinkan penggunaan hingga 10 persen.

“EIGER Nature berjanji, berkomitmen akan sangat berhati-hati di dalam pengembangan, apalagi yang ada di kawasan hutan,” ujar Ronny.

Pengelola mengaku telah menanam sekitar 120.000 pohon tegakan dan delapan juta tanaman penutup tanah. Selain itu, sumur resapan dan kolam retensi dibangun untuk membantu mengendalikan limpasan air.

Namun, angka penanaman dan pembangunan infrastruktur tersebut belum dengan sendirinya menggambarkan dampak ekologis jangka panjang. Pemantauan tingkat hidup tanaman, pemeliharaan vegetasi, pengelolaan sampah, perlindungan keanekaragaman hayati, dan pengendalian tekanan pengunjung tetap menjadi aspek penting dalam pengelolaan ekowisata.

Terlebih, informasi mengenai batas pemanfaatan lahan dan kaitannya dengan kawasan konservasi perlu dipahami sesuai status ruang, perizinan, serta ketentuan yang berlaku.

Mulai Menerima Kunjungan pada November

Direktur EIGER Nature Imanuel Wirajaya mengatakan, destinasi tersebut direncanakan mulai menerima kunjungan masyarakat secara bertahap pada 2 November 2026.

Panorama pegunungan, termasuk Gunung Pangrango, menjadi salah satu daya tarik utama. Pengelola juga ingin menjadikan kawasan ini sebagai sarana bagi pengunjung untuk lebih mengenal alam dan budaya Indonesia.

“Aset utama dari EIGER Nature ini, kita selalu mengatakan, aset utama adalah alamnya,” kata Imanuel.

Peluncuran EIGER Nature dihadiri sejumlah pejabat, termasuk Ketua MPR Ahmad Muzani, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar, Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan, dan Bupati Bogor Rudy Susmanto.

Pengembangan EIGER Nature menempatkan konservasi dan manfaat ekonomi lokal sebagai dua agenda yang perlu berjalan beriringan. Keberhasilannya akan ditentukan oleh pelaksanaan komitmen lingkungan, transparansi pengelolaan kawasan, serta sejauh mana masyarakat sekitar memperoleh manfaat dari aktivitas wisata tersebut. (Nda)