Dari Kepulauan Kei ke Korea Selatan, Eastern Indo Collective Bawa Identitas Budaya Indonesia Timur
4 mins read

Dari Kepulauan Kei ke Korea Selatan, Eastern Indo Collective Bawa Identitas Budaya Indonesia Timur

2 Kali Dibaca

Lanskap.id, Yogyakarta –  Perjalanan dari Kepulauan Kei menuju panggung internasional menjadi bagian dari cerita Eastern Indo Collective (EIC), kolektif musik yang dijadwalkan tampil di Incheon, Korea Selatan, pada 7 November 2026. Digagas Joshua Matulessy atau JFlow, EIC membawa misi memperkenalkan talenta dan identitas budaya Indonesia Timur melalui kolaborasi musik, tarian, serta unsur tradisional.

EIC akan menyajikan pertunjukan selama 25 menit tanpa jeda. Penampilan dirancang dimulai dengan perkusi dan elemen adat, kemudian berkembang menjadi aransemen musik modern yang menggabungkan penyanyi, DJ, dan tarian.

Bagi JFlow, konsep kolektif menjadi cara untuk memperlihatkan keragaman seni Indonesia Timur dalam satu panggung. Gagasan ini berkembang setelah dirinya mendapat tanggung jawab sebagai anggota ASEAN Korean Music Committee (AKMC), yang menginisiasi pertukaran musik antara negara-negara ASEAN dan Korea Selatan melalui festival internasional.

Alih-alih hanya mengirimkan satu penyanyi, JFlow mengusulkan pertunjukan yang melibatkan sejumlah talenta dari Indonesia Timur, termasuk musisi dan pelaku budaya dari Kepulauan Kei, Maluku.

Kolaborasi Empat Penyanyi Tabola Bale

EIC berencana mempertemukan Silat Open Up, Juwab Reza, Jackson Seran, dan Diva Awel, empat penyanyi yang dikenal melalui lagu Tabola Bale.

Berdasarkan keterangan dalam wawancara, lagu tersebut telah mencapai sekitar 580 juta penayangan di YouTube. Namun, keempat penyanyi itu belum pernah tampil bersama dalam satu panggung untuk membawakan lagu tersebut.

Penampilan di Korea Selatan diharapkan menjadi kesempatan bagi mereka untuk berkolaborasi secara langsung. EIC juga ingin menghadirkan pencipta lagu dan anggota tim dari Kepulauan Kei sebagai bagian dari upaya membawa representasi budaya yang lebih luas.

Konsep tersebut sempat menghadapi tantangan karena penyelenggara pada awalnya mengalokasikan satu slot penampil untuk setiap negara. JFlow kemudian mengajukan format kolektif yang melibatkan sejumlah musisi dan pelaku budaya untuk menampilkan keragaman seni Indonesia.

Akses ke Panggung Global Tidak Selalu Mudah

Di balik rencana tampil di Korea Selatan, para anggota EIC menghadapi tantangan geografis, transportasi, dan pendanaan.

Rombongan dari Kepulauan Kei menempuh perjalanan laut selama sekitar lima hari sebelum melanjutkan perjalanan darat menuju Yogyakarta. Mereka melewati sejumlah wilayah, termasuk Banda Neira, Ambon, dan Makassar, sebelum meneruskan perjalanan melalui Surabaya.

JFlow menyebut biaya perjalanan dari Kepulauan Kei menuju Jakarta dapat mencapai sekitar Rp10 juta hingga Rp11 juta. Biaya tersebut menjadi salah satu tantangan bagi para anggota yang masih memerlukan dukungan untuk perjalanan dan persiapan pertunjukan.

Bagi sebagian anggota, perjalanan ini merupakan pengalaman pertama naik pesawat, berkunjung ke Jakarta, bahkan bepergian ke luar negeri.

Rangkaian kegiatan From Kei to Korea memperlihatkan bahwa akses menuju panggung internasional tidak hanya bergantung pada kemampuan berkarya. Jarak geografis, ketersediaan transportasi, dan biaya perjalanan turut menentukan kesempatan talenta daerah untuk tampil di hadapan audiens global.

Dukungan ARTOTEL Group untuk Talenta Lokal

Dalam proses persiapan di Yogyakarta, ARTOTEL Group membantu menyediakan fasilitas latihan dan akomodasi bagi para anggota EIC.

Chief Operating Officer (COO) ARTOTEL Group, Eduard Rudolf Pangkarego, mengatakan dukungan tersebut merupakan bagian dari upaya memberikan ruang bagi talenta lokal untuk berkembang dan memperkenalkan potensi Indonesia kepada dunia.

Menurut Eduard, kekayaan budaya dan sumber daya manusia Indonesia dapat menjadi bagian dari diplomasi budaya apabila memperoleh dukungan yang memadai. Ia mengapresiasi semangat para anggota EIC yang menempuh perjalanan panjang dari Kepulauan Kei demi mendapatkan kesempatan tampil di Korea Selatan.

JFlow menjelaskan, dukungan ARTOTEL Group bermula dari komunikasi dengan pihak hotel melalui bagian pemasaran. Kesepakatan dukungan terbangun dalam waktu kurang dari satu minggu.

Ruang latihan yang semula hanya direncanakan untuk penggunaan terbatas kemudian dapat dimanfaatkan lebih leluasa setelah pihak hotel melihat para anggota berlatih hampir sepanjang hari. Fasilitas tersebut membantu para musisi menyatukan konsep pertunjukan di tengah keterbatasan waktu dan jarak.

Budaya sebagai Penghubung ke Dunia

Dalam simulasi pertunjukan, EIC mengawali penampilan dengan perkusi dan unsur tradisional Indonesia Timur sebelum beralih ke aransemen modern. Rangkaian musik dan tarian disusun agar terhubung selama 25 menit tanpa jeda.

EIC dijadwalkan tampil pada 7 November 2026 di Incheon bersama perwakilan negara-negara ASEAN dan Korea Selatan. Menurut JFlow, EIC memperoleh slot utama atau prime time, satu penampilan sebelum penampil terakhir.

Lebih dari sekadar pertunjukan, EIC membawa upaya memperluas ruang bagi musisi daerah untuk menunjukkan karya dan identitas budaya mereka. Kolaborasi ini juga memperlihatkan pentingnya dukungan lintas sektor agar talenta dari wilayah yang jauh dari pusat industri hiburan dapat memperoleh akses yang lebih besar ke panggung internasional.

Melalui From Kei to Korea, musik menjadi medium untuk mempertemukan tradisi dan modernitas sekaligus memperkenalkan kekayaan Indonesia Timur kepada masyarakat dunia.