Lanskap, Jakarta – Perjalanan hidup Ginka Febriyanti Ginting dimulai dari kesederhanaan. Lahir dan tumbuh di Tanah Karo, ia dibesarkan dengan nilai-nilai disiplin, kerja keras, kejujuran, serta keteguhan prinsip. Dari lingkungan itulah Ginka belajar bahwa latar belakang bukanlah penghalang untuk bermimpi besar dan berkontribusi bagi negeri.
Ginka lahir di Kabanjahe pada 1 Februari 1998 dan tumbuh dalam keluarga sederhana yang menjunjung tinggi kedisiplinan. Nilai-nilai tersebut membentuk karakternya sejak dini. Perempuan berusia 28 tahun ini terus melangkah, berproses, dan berjuang mengejar mimpi, terutama di bidang pendidikan.
Pendidikan dasar hingga menengah ia tempuh di kampung halamannya, Kabanjahe. Setelah itu, Ginka melanjutkan studi sarjana hingga pascasarjana di Universitas Esa Unggul, Jakarta Barat. Tak hanya fokus pada akademik, ia juga aktif berorganisasi. Ginka pernah dipercaya menjadi Ketua Umum Aliansi Mahasiswa Nasional, dan kini mengemban amanah sebagai Ketua Umum Barisan Intelektual Strategi Objektif Nasional.
Jalan yang dilalui Ginka tentu tidak instan. Dengan tekad kuat dan semangat belajar yang terus menyala, ia membuktikan bahwa integritas dan dedikasi bisa membuka pintu menuju ruang-ruang strategis. Hingga akhirnya, sebuah amanah besar datang: dipercaya menjadi Komisaris PT Pertamina Retail, salah satu anak usaha strategis BUMN energi nasional.
Bagi Ginka, pencapaian ini bukan sekadar soal jabatan. Lebih dari itu, ini adalah simbol harapan bahwa perempuan muda dari daerah, dengan latar belakang sederhana dan nilai lokal yang kuat, mampu mengambil peran penting dalam pengelolaan perusahaan nasional. Ia percaya, jabatan adalah tanggung jawab yang harus dijalani dengan penuh kesadaran.
“Ini bukan tentang saya, tetapi tentang pengabdian,” menjadi prinsip yang ia pegang. Dengan semangat melayani dan menjunjung profesionalisme, Ginka berkomitmen untuk ikut mengawal Pertamina Retail agar terus tumbuh, berintegritas, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Kisahnya mengingatkan kita bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari tanah yang sederhana. Dari Tanah Karo, Ginka melangkah untuk Indonesia.



