
Menguji Pancasila antara Idealisme dan Realitas, Sarasehan Digelar di Bogor
Lanskap, Bogor – Seberapa jauh nilai-nilai Pancasila hadir dalam kehidupan sehari-hari? Pertanyaan tersebut akan menjadi salah satu pokok pembahasan dalam Sarasehan Kesaktian Pancasila yang digelar di Balong Kabayan, Bogor Selatan, Sabtu, 3 Oktober 2026.
Mengusung tema “Menguji Kesaktian Pancasila: Antara Idealisme, Teori, dan Realita Kehidupan Berbangsa”, forum ini dirancang sebagai ruang dialog untuk mempertemukan pemahaman mengenai Pancasila dengan berbagai realitas yang dihadapi masyarakat.
Pembahasan tidak hanya berkutat pada teori, tetapi juga menyentuh isu kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial.
Pembina Daya Putra Bangsa, Heri Cokro, mengatakan peringatan Kesaktian Pancasila dapat menjadi kesempatan untuk melihat kembali bagaimana nilai-nilai tersebut diwujudkan dalam kehidupan masyarakat.
“Kesaktian Pancasila jangan hanya kita maknai sebagai peristiwa sejarah atau seremoni tahunan. Yang penting adalah menguji apakah nilai-nilai Pancasila benar-benar hidup dalam perilaku kita sebagai warga negara,” ujar Heri.
Ia menilai perkembangan zaman membuat pembicaraan mengenai Pancasila perlu terus diperbarui melalui dialog. Teknologi informasi, media sosial, perubahan sosial, politik identitas, dan berbagai kepentingan yang berkembang di masyarakat menjadi konteks yang turut memengaruhi cara nilai-nilai tersebut dipahami dan dipraktikkan.
“Pancasila harus terus dibicarakan, bukan karena kita meragukannya, tetapi karena kita ingin memastikan nilai-nilainya tetap mampu menjawab persoalan zaman,” katanya.
Heri juga menilai generasi muda perlu memiliki ruang untuk bertanya dan menguji pemahaman mengenai Pancasila berdasarkan pengalaman serta realitas yang mereka hadapi.
Ketua Panitia Tri Ajeng mengatakan kegiatan tersebut diharapkan dapat mempertemukan berbagai perspektif dalam suasana dialog yang terbuka.
“Kami ingin menghadirkan ruang bagi peserta untuk berdialog, bertanya, berbeda pandangan, dan bersama-sama mencari makna Pancasila dalam kehidupan nyata,” ujar Tri Ajeng.
Rangkaian kegiatan akan diperkaya dengan unsur seni dan budaya melalui Teatrikalisasi Pancasila oleh Teater Bocah Putra Bangsa. Setelah itu, diskusi sesi pertama menghadirkan Dr. Heri Santoso dari Filsafat UGM, Sadono Sriharjo, ST dari BPIP, serta Ahmad Sofwan Ansori dari UNPAK Bogor, dengan Heri Cokro sebagai moderator.
Peserta juga akan mengikuti sesi tanya jawab dan tanggapan pakar. Acara dilanjutkan dengan penyusunan kesimpulan dan resolusi, hiburan bersama KPJ Bogor, serta ramah tamah.
Bagi Tri Ajeng, salah satu hal penting dari kegiatan tersebut adalah mendorong peserta melakukan refleksi pribadi.
“Kami berharap peserta tidak pulang hanya membawa pemahaman tentang apa itu Pancasila, tetapi juga membawa pertanyaan kepada dirinya sendiri: sudah sejauh mana nilai Pancasila kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Sarasehan tersebut sekaligus membuka ruang pembicaraan mengenai hubungan antara Pancasila sebagai gagasan dan praktik kehidupan berbangsa.
Dalam konteks resmi pembinaan ideologi, BPIP juga menempatkan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara sekaligus pandangan hidup yang perlu diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Karena itu, pembicaraan mengenai Pancasila dapat ditempatkan tidak hanya sebagai pengulangan nilai, tetapi juga sebagai proses refleksi terhadap bagaimana nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan nyata.
Melalui sarasehan ini, penyelenggara berharap tercipta percakapan kebangsaan yang terbuka dan konstruktif, dengan menjadikan kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial sebagai bagian dari refleksi bersama. (Ckr03/red)



