Beranda » Diplomasi Kopi dan Otentisitas Minang dalam Heritage Talk 2025

Diplomasi Kopi dan Otentisitas Minang dalam Heritage Talk 2025

Diplomasi Kopi dan Otentisitas Minang dalam Heritage Talk 2025

Lanskap, Jakarta – Menjaga warisan kuliner Nusantara agar tetap relevan, berdaya saing global, namun tidak kehilangan jati diri menjadi tantangan tersendiri di era modern. Menjawab hal tersebut, Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie menghadirkan kolaborasi lintas sektor melalui gelaran Heritage Talk 2025 yang berlangsung di Kampus Bakrie Tower, Lantai 42, pada Selasa, 6 Januari 2026.

Kegiatan ini diselenggarakan melalui mata kuliah Marketing Public Relations Strategy (MPRS) sebagai ruang sinergi antara akademisi, pemerintah, pelaku bisnis restoran, dan praktisi industri. Forum ini bertujuan merumuskan strategi komunikasi untuk memperkuat pertahanan kuliner Indonesia agar tidak tergerus perubahan zaman.

Dosen pengampu mata kuliah MPRS, Haililah Tri Gandhiwati, menekankan pentingnya keterlibatan praktisi dan pemerintah dalam proses pembelajaran. Menurutnya, mahasiswa perlu memahami bahwa upaya menjaga warisan budaya memiliki kompleksitas tinggi dan tidak bisa diselesaikan melalui pendekatan teori semata. Melalui Heritage Talk, mahasiswa belajar memahami pass strategy, diplomasi, serta kekuatan public relations sebagai alat menembus pasar global. Tanpa sinergi lintas sektor, warisan rasa berisiko hanya menjadi cerita masa lalu.

Heritage Talk juga menjadi wujud penerapan metode pembelajaran khas Universitas Bakrie, Experience The Real Things. Mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi terlibat langsung dalam merancang kolaborasi strategis dengan pemangku kepentingan nasional, sekaligus mempersiapkan merek budaya Indonesia sebagai garda terdepan pelestarian identitas bangsa.

Acara ini menghadirkan dua perspektif utama, yakni Irman Adi Purwanto Moefthi dari Kementerian Perdagangan RI dan Ervina Waty, CFO jaringan restoran Padang Payakumbuh. Irman menyoroti peran penting diplomasi kopi sebagai diplomasi budaya yang harus didukung narasi kuat antara pemerintah dan praktisi. Sementara itu, Ervina menegaskan bahwa menjaga otentisitas Minang adalah kunci, di mana modernisasi manajemen justru berfungsi melindungi resep dan nilai warisan tanpa mengorbankan cita rasa. (Mur)