Beranda Β» Kepergian Lula Lahfah dan Cerita Panjang di Balik Riwayat GERD

Kepergian Lula Lahfah dan Cerita Panjang di Balik Riwayat GERD

Lanskap, Jakarta – Kabar kepergian Lula Lahfah meninggalkan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga dan sahabat, tetapi juga publik yang selama ini mengenalnya sebagai sosok ceria di media sosial. Selebgram kelahiran 17 Juli 1999 itu ditemukan meninggal dunia di kamar apartemennya di kawasan Jakarta Selatan, sebuah kabar yang mengejutkan banyak pihak.

Lula ditemukan dalam kondisi tak bernyawa setelah asisten rumah tangga yang bekerja di apartemen tersebut mengetuk pintu kamarnya, namun tak mendapat respons. Merasa ada yang tidak beres, ia kemudian meminta bantuan petugas keamanan gedung. Peristiwa itu menjadi awal dari kabar duka yang dengan cepat menyebar ke ruang publik.

Beberapa waktu sebelumnya, Lula diketahui sempat menjalani perawatan di rumah sakit selama hampir sepekan, tepatnya pada akhir 2025 hingga awal 2026. Ayah Lula, Feroz, mengungkapkan bahwa sang putri memiliki riwayat gangguan kesehatan, salah satunya gastroesophageal reflux disease (GERD).

β€œWaktu tahun baru dia sempat masuk rumah sakit beberapa hari. Dia punya GERD, itu sudah sering kambuh, terus juga ada pembengkakan di usus,” ujar Feroz seusai pemakaman Lula, Sabtu (24/1/2026).

Keluhan itu, menurut sang ayah, lebih sering Lula ceritakan kepada teman-teman terdekatnya dibandingkan keluarga. Rasa nyeri yang kerap muncul di bagian kiri tubuhnya kerap ia tahan sendiri.

β€œKalau kami tahu dari awal, mungkin kami suruh dia berobat lebih intens, atau lakukan body check-up. Tapi dia lebih banyak menahan. Mungkin itu yang akhirnya jadi komplikasi,” lanjutnya dengan suara tertahan.

Riwayat kesehatan tersebut juga pernah disampaikan Lula secara terbuka melalui media sosial. Dalam sebuah balasan komentar di TikTok pada awal Januari 2026, Lula menyebutkan sejumlah kondisi yang ia alami.

β€œBorongan, ISK, usus bengkak radang, batu ginjal, GERD,” tulisnya saat menjawab pertanyaan warganet.

Meski demikian, setelah keluar dari rumah sakit, Lula disebut tengah menjalani rawat jalan. Ia bahkan sempat berlibur ke Bali bersama sejumlah sahabat dekatnya dan masih terlihat aktif di media sosial. Beberapa hari sebelum ditemukan meninggal, Lula juga mengunggah konten bersama kekasihnya, Reza Arap, dan tampak dalam kondisi baik.

Jauh sebelum itu, Lula pernah mencurahkan pengalamannya menghadapi gangguan asam lambung melalui akun Twitter pribadinya. Dalam beberapa cuitan, ia menulis tentang sesak napas, nyeri dada, hingga rasa cemas berlebihan yang ia kaitkan dengan GERD.

Kondisi tersebut kembali menjadi perbincangan publik, sekaligus pengingat bahwa gangguan asam lambung bukan sekadar keluhan ringan. GERD dapat berdampak serius jika tidak ditangani dengan tepat dan berkelanjutan.

Mengutip keterangan dari Eka Hospital, GERD atau gastroesophageal reflux disease adalah kondisi ketika asam lambung naik ke kerongkongan. Hal ini dapat menimbulkan sensasi panas di dada, mual, hingga nyeri yang kerap disalahartikan sebagai gangguan jantung.

Karena dinding kerongkongan tidak dirancang untuk menahan paparan asam, refluks yang terjadi berulang kali dapat memicu berbagai gejala, mulai dari nyeri dada, sulit menelan, batuk kronis, hingga sesak napas. Faktor pemicunya pun beragam, termasuk obesitas, hernia hiatal, kehamilan, serta gangguan pengosongan lambung.

Kepergian Lula Lahfah menjadi pengingat sunyi bahwa mendengarkan tubuh sendiri adalah hal yang tak boleh ditunda. Ketika sinyal sakit datang berulang, penanganan medis yang tepat bisa menjadi langkah penting untuk mencegah risiko yang lebih besar.