
Ketika Kampus Membawa Mahasiswa Belajar Bisnis ke Ruang Publik
Lanskap, Jakarta – Ada pelajaran yang sulit diperoleh hanya dari buku atau ruang kelas: bagaimana sebuah gagasan bertemu dengan manusia nyata.
Di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, Blok M, Jakarta Selatan, ratusan mahasiswa baru Universitas Ciputra Jakarta mendapatkan kesempatan untuk mengalami pertemuan tersebut melalui Selling Day O-Week UC Jakarta 2026.
Sebanyak 20 tenant hadir. Namun, kegiatan ini tidak semata-mata tentang siapa yang paling banyak menjual produk.
Mahasiswa diajak melihat bisnis sebagai sebuah proses yang dimulai jauh sebelum transaksi terjadi.
Mereka harus membaca persoalan di sekitar, menentukan siapa yang membutuhkan solusi, mengembangkan produk, membangun identitas, mengenalkannya kepada masyarakat, lalu mendengarkan respons dari mereka yang menjadi konsumen.
Pendekatan Real Business Experience membuat ruang publik menjadi semacam laboratorium pembelajaran.
Di sana, ide yang sebelumnya hanya berada dalam pikiran mahasiswa berhadapan dengan pertanyaan yang lebih konkret: apakah produk tersebut dibutuhkan, apakah orang tertarik, dan apa yang harus diperbaiki?
Ketika Produk Membawa Pesan
Salah satu cerita datang dari Tail & Tales.
Kelompok yang diwakili Kevin Imanuel menghadirkan blind box key chain untuk animal dan pet lovers. Tetapi produk tersebut tidak berhenti sebagai benda konsumsi.
Tail & Tales menggandeng Jakarta International Pet Show untuk membawa edukasi tentang rescue dan kesejahteraan hewan.
Bagi kelompok tersebut, komunitas menjadi bagian dari perjalanan bisnis. Kolaborasi membantu mereka menemukan kelompok konsumen yang relevan sekaligus memperluas pesan yang ingin disampaikan.
Di titik ini, bisnis tidak lagi hanya berbicara tentang produk dan harga.
Ada nilai yang ikut bergerak bersama sebuah produk.
“Kami juga belajar bahwa membangun bisnis bukan hanya soal berjualan, tetapi juga membangun relasi dan berkolaborasi dengan komunitas,” ujar Kevin.
Belajar Mendengarkan Pasar
Steering Committee O-Week UC Jakarta 2026, Ade Eka Permana, mengatakan mahasiswa sengaja dibawa keluar dari lingkungan kampus agar dapat belajar langsung dari masyarakat.
Gagasan tersebut memperlihatkan satu hal penting dalam entrepreneurship: pasar bukan sekadar angka dalam laporan atau hasil riset.
Pasar adalah manusia yang memberikan respons.
Ada yang tertarik. Ada yang bertanya. Ada yang mungkin tidak membutuhkan. Dari respons-respons itulah sebuah produk dapat dipahami kembali.
Selling Day memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengalami proses tersebut sejak awal masa perkuliahan.
Kegiatan ini sekaligus mempertemukan kreativitas dengan kemampuan membaca kebutuhan masyarakat.
Mahasiswa belajar bahwa branding bukan hanya soal tampilan, pemasaran bukan hanya soal menjual, dan kolaborasi bukan sekadar mencari keuntungan.
Ketiganya dapat menjadi cara untuk membangun hubungan antara sebuah gagasan dengan masyarakat.
Pada akhirnya, pengalaman di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu bukan hanya meninggalkan cerita tentang 20 tenant dan produk yang mereka jual.
Ia menjadi pengalaman tentang bagaimana sebuah ide tumbuh ketika berani dibawa keluar dari ruang kelas.
Sebab dalam dunia bisnis, terkadang pelajaran paling penting justru muncul setelah sebuah produk diletakkan di hadapan orang lain dan penciptanya bersedia mendengarkan jawabannya. (Hnd)



