“RUMAH” dan “Ikatan Cinta” dalam Satu Abad Rahmi Hatta
4 mins read

“RUMAH” dan “Ikatan Cinta” dalam Satu Abad Rahmi Hatta

5 Kali Dibaca

Lanskap, Jakarta – Rumah tidak selalu berupa dinding, pintu, dan ruang yang kita tempati. Ia juga dapat menjadi tempat nilai tumbuh, ingatan disimpan, dan karakter diwariskan.

Gagasan itulah yang menjadi salah satu napas dalam Fashion Performance Art “RUMAH”, bagian dari rangkaian Satu Abad Rahmi Hatta yang digelar Yayasan Meutia Hatta Swasono.

Genap 100 tahun usia Rahmi Hatta tidak dirayakan hanya dengan mengingat perjalanan hidupnya. Peringatan tersebut mencoba membaca kembali nilai yang ditinggalkannya melalui seni, fashion, sejarah, dan kegiatan sosial.

Pada Sabtu, 5 September 2026, Tennis Indoor Senayan menjadi ruang pertemuan berbagai bentuk ekspresi tersebut.

Di atas panggung, “RUMAH” membawa perjalanan Rahmi Hatta melalui teater, musik, tari, dan fashion. Di ruang yang sama, kegiatan “Ikatan Cinta” mempertemukan 40 pasangan dalam sebuah prosesi pernikahan massal.

Keduanya seolah berbicara dengan bahasa yang berbeda. Namun, keduanya bertemu pada satu gagasan: keluarga sebagai tempat nilai kemanusiaan dimulai.

Membaca Rahmi Hatta Melalui “RUMAH”

Disutradarai Wawan Sofwan, “RUMAH” tidak memandang rumah hanya sebagai ruang fisik.

Rumah diposisikan sebagai tempat seseorang belajar tentang kehidupan, mengenal kasih sayang, membangun keluarga, serta menanamkan nilai kepada generasi setelahnya.

Perjalanan Rahmi Hatta sejak masa muda hingga kehidupannya sebagai pendamping Mohammad Hatta diterjemahkan melalui bahasa panggung.

Fashion menjadi salah satu elemen penting di dalamnya. Koleksi busana pribadi Rahmi Hatta kembali dihadirkan dan diperagakan oleh Top 4 Puteri Indonesia serta Abang None Jakarta Barat.

Busana tersebut menyimpan cerita tersendiri. Kesederhanaan dan keanggunannya menjadi potongan kecil dari perjalanan seorang perempuan yang hidup di tengah perubahan besar dalam sejarah Indonesia.

Di atas panggung, masa lalu kemudian berdialog dengan masa kini.

Monolog Maudy Koesnaedi dan Prilly Latuconsina melengkapi pertunjukan. Musik dari Iwan Fals, Isyana Sarasvati, Vicky Mono, Aqi Singgih, dan Audrey membawa suara lintas generasi, sementara tari menambahkan lapisan lain dalam cerita.

“RUMAH” akhirnya bukan sekadar fashion performance. Ia menjadi ruang untuk mengingat bagaimana nilai-nilai dalam sebuah keluarga dapat membentuk seseorang dan kemudian bergerak lebih jauh ke tengah masyarakat.

Ketika Warisan Menjadi Tindakan

Rangkaian satu abad tersebut telah dimulai pada Juli melalui Afternoon Tea Talkshow “Satu Abad Rahmi Hatta, Sebuah Legacy”.

Tema “Legacy of Rahmi Hatta: Past, Present and Future” menjadi ruang untuk membicarakan kembali intelektualitas, kesederhanaan, dan keteladanan yang diwariskan Rahmi Hatta.

Koleksi busana pribadinya turut diperkenalkan kepada publik.

Namun warisan tidak berhenti pada benda dan cerita.

Di Tennis Indoor Senayan, warisan itu bergerak ke bentuk yang lebih konkret melalui kegiatan “Ikatan Cinta”.

Sebanyak 40 pasangan mengikuti prosesi nikah massal. Bagi mereka, kegiatan tersebut bukan sekadar bagian dari peringatan seorang tokoh, tetapi menjadi awal dari sebuah perjalanan baru.

Kegiatan tersebut juga membawa persoalan yang lebih luas tentang keluarga dan kepastian hukum perkawinan.

Wakil Menteri Agama Muhammad Syafi’i menekankan bahwa pernikahan memiliki dimensi agama, sosial, sekaligus hukum. Kepastian tersebut penting bagi pasangan maupun anak-anak yang lahir dari perkawinan.

Karena itu, ketika negara, lembaga sosial, dan masyarakat bertemu dalam sebuah kegiatan seperti ini, yang dibicarakan bukan hanya tentang sebuah prosesi, melainkan juga tentang perlindungan dan keberlanjutan sebuah keluarga.

Menjaga Nilai agar Tidak Berhenti sebagai Kenangan

Selain nikah massal, rangkaian kegiatan juga menghadirkan donor darah, layanan pembuatan paspor, dan ruang bagi UMKM.

Bagi Yayasan Meutia Hatta Swasono, berbagai kegiatan tersebut merupakan cara untuk meneruskan kepedulian yang diwariskan Rahmi Hatta.

Warisan, dengan demikian, tidak harus selalu berada di museum.

Ia bisa berada di sebuah panggung ketika pakaian lama kembali dikenakan. Ia bisa hidup dalam sebuah monolog, musik, atau tari. Ia juga dapat hadir dalam sebuah akad ketika dua manusia memulai perjalanan sebagai keluarga.

Satu abad Rahmi Hatta menjadi pengingat bahwa sejarah tidak selalu berada jauh di belakang kita.

Kadang, ia hadir dalam bentuk yang sederhana: nilai yang masih dipraktikkan, kepedulian yang masih diteruskan, dan ruang bagi orang lain untuk memulai kehidupan yang baru.

Dari “RUMAH” hingga “Ikatan Cinta”, satu pesan menjadi benang merahnya: apa yang diwariskan seseorang akan terus hidup selama ada yang bersedia meneruskannya. (Hnd)