
Dari Lapak Pemulung, Rumah Belajar Hadir untuk 40 Anak Pancoran Buntu II
Lanskap, Jakarta – Di tengah aktivitas lapak pemulung Pancoran Buntu II, sebuah ruang belajar kembali dibuka untuk anak-anak dari keluarga pemulung dan masyarakat prasejahtera.
Yayasan Hati Kita Serupa bersama Rumah Belajar August Hamonangan menggelar Rumah Belajar Berbasis Digital & Kebudayaan di Lapak Pemulung Pancoran Buntu II, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (25/8/2026).
Kegiatan tersebut menggandeng Bank Jakarta KCP Kalibata sebagai mitra sponsor dan melibatkan sekitar 40 anak.
Bagi penyelenggara, kehadiran rumah belajar di lokasi tersebut memiliki arti tersendiri. Pendidikan tidak dibawa ke tempat yang jauh dari keseharian anak, melainkan hadir langsung di lingkungan tempat mereka tinggal dan beraktivitas.
Pendiri Yayasan Hati Kita Serupa, Hudson Elbert Sinaga, mengatakan pendidikan harus dapat diakses oleh semua anak tanpa melihat latar belakang ekonomi.
“Kami percaya pendidikan adalah aset bangsa dan pilar utama mencetak generasi berikutnya menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Hudson.
Menurutnya, keterbatasan ekonomi tidak semestinya membuat seorang anak kehilangan kesempatan untuk belajar dan mengembangkan potensi.
Kegiatan di Pancoran Buntu II diisi dengan belajar kelompok dan sesi motivasi. Para relawan dan tenaga pengajar turut mendampingi peserta selama kegiatan berlangsung.
Bank Jakarta KCP Kalibata memberikan dukungan sebagai mitra sponsor. Sementara warga Lapak Pemulung Pancoran Buntu II ikut memberikan sambutan dan dukungan terhadap kegiatan tersebut.
Apresiasi juga disampaikan kepada para relawan, tenaga pengajar dan berbagai pihak yang ikut membantu, termasuk pelaku UMKM di kawasan Pengadegan Utara Raya, seperti Bakso Bakar Barokah Pakde.
Pendidikan, Kemandirian dan Toleransi
Koordinator kegiatan, Tri Widya, berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai aktivitas satu hari.
Rumah Belajar diharapkan dapat berkembang menjadi bagian dari program pendidikan berkelanjutan bagi masyarakat Pancoran Buntu II.
Semangat tersebut dikaitkan dengan gagasan “Jakarta Mantap Melalui Pendidikan” yang menempatkan pendidikan sebagai salah satu jalan penting untuk membangun masyarakat yang mandiri.
Dalam kerangka tersebut, pendidikan diarahkan untuk memberikan keterampilan, literasi dan pelatihan kepada anak maupun warga agar mampu menghadapi perubahan, termasuk perkembangan teknologi dan persaingan di era digital.
Nilai toleransi juga menjadi bagian dari pendidikan yang ingin dibangun. Anak-anak dikenalkan pada pentingnya menghargai kebebasan beribadah, adat dan kebiasaan sebagai bagian dari pembentukan karakter.
Sementara itu, semangat anti pungli menekankan bahwa pendidikan merupakan hak setiap anak dan tidak semestinya menjadi beban ekonomi bagi keluarga.
“Pendidikan tidak boleh menjadi beban, tapi harus menjadi jembatan untuk masa depan yang lebih baik,” ujar Tri Widya.
Kegiatan tersebut juga bertepatan dengan hari ulang tahun August Hamonangan, yang disebut memiliki perhatian terhadap isu pendidikan dan menjadi penggerak sekolah inklusif.
Bagi anak-anak Pancoran Buntu II, ruang belajar tersebut mungkin sederhana. Namun dari ruang sederhana itulah, kesempatan untuk mengenal pengetahuan, membangun kepercayaan diri dan memandang masa depan dapat dimulai.
Rumah Belajar Berbasis Digital & Kebudayaan menjadi salah satu upaya untuk memastikan bahwa pendidikan tidak hanya hadir di gedung sekolah, tetapi juga dapat tumbuh di tengah masyarakat yang membutuhkan. (Hnd)



