
Dari Nama Besar Menuju Reputasi Akademik: Jalan Panjang ITSB Menjadi Research University
Lanskap, Bekasi – Di tengah semakin ketatnya persaingan perguruan tinggi swasta di Indonesia, Institut Teknologi Sains Bandung (ITSB) memilih membangun masa depannya bukan hanya dengan mengandalkan nama besar di belakangnya, melainkan melalui penguatan budaya akademik, riset, dan tata kelola institusi.
Kampus yang berdiri atas kolaborasi Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Sinar Mas tersebut kini menargetkan transformasi menjadi research university, sekaligus meningkatkan kapasitas mahasiswa hingga sekitar 2.500 orang pada akhir 2026.
Rektor ITSB, Carmadi Machbub, menilai bahwa reputasi institusi tidak dapat bertumpu pada identitas pendirinya semata. Menurutnya, masyarakat membutuhkan indikator yang lebih nyata untuk menilai kualitas sebuah perguruan tinggi, salah satunya melalui capaian akreditasi.
Karena itu, peningkatan mutu akademik dan perbaikan akreditasi menjadi agenda strategis yang saat ini diprioritaskan. Langkah tersebut dipandang sebagai fondasi penting untuk membangun kepercayaan publik sekaligus memperkuat posisi ITSB di tengah kompetisi pendidikan tinggi nasional.
Transformasi tersebut juga tercermin dari perubahan visi kelembagaan. Setelah melakukan penyesuaian statuta, ITSB kini memperluas orientasinya dari bidang sains dan teknologi menjadi perguruan tinggi yang mengintegrasikan sains, teknologi, dan bisnis. Dalam jangka panjang, pembukaan program magister dan doktor disiapkan sebagai pintu masuk menuju universitas berbasis riset.
Namun membangun universitas tidak hanya bergantung pada kurikulum dan fasilitas. Di era digital, promosi menjadi bagian penting dalam memperluas jangkauan. ITSB memilih pendekatan yang relatif organik dengan mendorong mahasiswa memperkenalkan kehidupan kampus melalui media sosial mereka.
Pendekatan ini terbukti mampu menjangkau calon mahasiswa dari luar wilayah Bekasi. Keisha Leotta, misalnya, mengenal ITSB melalui siaran langsung TikTok mahasiswa senior. Sementara Zaqy Omar Ibrahim menemukan kampus tersebut melalui pencarian internet sebelum akhirnya memutuskan mengambil Program Studi Teknik Sipil.
Bagi Omar, keberadaan Sinar Mas sebagai bagian dari ekosistem kampus memberikan keyakinan tersendiri mengenai prospek karier setelah lulus. Setelah memperoleh beasiswa dengan potongan biaya kuliah hingga 70 persen, kisahnya turut menginspirasi belasan adik kelas di sekolah asalnya untuk mengikuti jejak yang sama.
Di sisi lain, jumlah mahasiswa yang saat ini berkisar 1.700 orang menghadirkan suasana akademik yang lebih personal. Interaksi antara mahasiswa dan dosen berlangsung lebih dekat, sementara peluang membangun jejaring lintas daerah menjadi nilai tambah yang dirasakan banyak mahasiswa.
Meski demikian, Carmadi menegaskan bahwa kedekatan dengan dunia industri bukan berarti lulusan otomatis memperoleh pekerjaan. Industri tetap menempatkan kompetensi sebagai syarat utama dalam proses rekrutmen. Karena itu, perguruan tinggi harus mampu memastikan setiap lulusan memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Transformasi menjadi research university, menurut Carmadi, bukan sekadar perubahan status kelembagaan, melainkan proses panjang yang mencakup pembentukan budaya riset, penguatan organisasi, pembaruan tata kelola, serta penciptaan atmosfer akademik yang sehat.
Pada akhirnya, masa depan sebuah perguruan tinggi tidak hanya ditentukan oleh siapa yang mendirikannya, tetapi oleh konsistensi institusi dalam menghasilkan pendidikan berkualitas, riset yang relevan, serta lulusan yang mampu menjawab kebutuhan industri dan perkembangan zaman. (Hnd)



