APPBI Gelar Pagelaran Seni Batik Puspa Nuswantara 2026, Perkuat Eksistensi Batik Asli Indonesia
3 mins read

APPBI Gelar Pagelaran Seni Batik Puspa Nuswantara 2026, Perkuat Eksistensi Batik Asli Indonesia

13 Kali Dibaca

Lanskap, Jakarta+ Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) bersama Satue Event akan menggelar Pagelaran Seni Batik Puspa Nuswantara 2026 pada 8–12 Juli 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta. Mengusung tema “Rupa Makna Tambal Nusantara”, pameran ini menjadi momentum menghidupkan kembali ekosistem pameran batik nasional sekaligus memperkuat posisi batik asli Indonesia di tengah maraknya tekstil bermotif batik yang diproduksi secara massal.

Kegiatan yang didukung oleh Bank BNI dan para perajin batik dari berbagai daerah ini diharapkan menjadi ruang promosi, edukasi, sekaligus transaksi bagi masyarakat yang ingin memperoleh batik asli hasil karya para perajin Indonesia.

Ketua Umum APPBI, Dr. H. Komarudin Kudiya, S.IP., M.Ds., mengatakan Puspa Nuswantara bukan sekadar pameran, melainkan gerakan budaya untuk menyelamatkan keberlangsungan batik asli Indonesia.

“Melalui Puspa Nuswantara kami ingin menghadirkan pameran yang benar-benar menampilkan batik asli karya para perajin. Saat ini masyarakat semakin sulit membedakan antara batik tulis, batik cap, dengan tekstil bermotif batik hasil printing. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi keberlangsungan para perajin batik tradisional,” ujar Komarudin.

Menurutnya, banjir produk tekstil bermotif batik berpotensi menenggelamkan keberadaan batik asli yang dibuat melalui proses membatik secara tradisional. Padahal, setiap lembar batik mengandung nilai sejarah, filosofi, identitas, serta keterampilan yang diwariskan turun-temurun.

Karena itu, APPBI menginisiasi pagelaran ini sebagai wadah untuk menyatukan kembali para perajin, pelaku usaha, komunitas budaya, akademisi, pemerintah, media, dan masyarakat dalam menjaga kelestarian batik sebagai warisan budaya Indonesia.

“Kami ingin membangun kembali kepedulian bersama terhadap batik. Ini bukan hanya soal produk, tetapi tentang menjaga warisan budaya bangsa agar tetap hidup dan memberi kesejahteraan bagi para perajinnya,” katanya.

Sementara itu, Direktur Satue Event, Bambang Setiawan, mengatakan kolaborasi bersama APPBI bertujuan menghidupkan kembali pameran batik yang sempat vakum sekaligus mengubah persepsi masyarakat terhadap batik.

“Kami ingin mengubah citra bahwa batik hanya untuk kalangan tertentu. Batik adalah milik semua orang dan dapat dikenakan oleh semua generasi. Karena itu kami menghadirkan konsep pameran yang lebih terbuka, edukatif, dan menarik sehingga mampu menjangkau anak muda tanpa meninggalkan nilai tradisinya,” ujar Bambang.

Ia menambahkan, Puspa Nuswantara merupakan pameran yang menghadirkan batik asli dari para perajin Indonesia, sehingga masyarakat dapat memperoleh produk batik berkualitas sekaligus memahami perbedaan antara batik asli dengan tekstil bermotif batik.

Salah satu peserta pameran, Sayino, menyebut Puspa Nuswantara menjadi pameran pertama yang secara khusus menghadirkan batik premium hasil karya perajin dengan teknik batik tulis dan batik cap.

“Kami berharap masyarakat semakin mencintai batik asli Indonesia. Melalui pameran ini kami juga ingin memperkenalkan batik kepada generasi muda agar mereka bangga mengenakan sekaligus melestarikan warisan budaya bangsa,” ujarnya.

Selama lima hari penyelenggaraan, Puspa Nuswantara 2026 akan menghadirkan berbagai kegiatan, di antaranya pameran batik, fashion show, bedah buku, talkshow, lelang batik, Pasar Batik Rakyat, hingga peluncuran karya batik terbaru. Seluruh rangkaian acara diharapkan mampu memperluas apresiasi masyarakat terhadap batik sekaligus memperkuat ekonomi para perajin di berbagai daerah.

Dengan semangat “Asli Batiknya, Asli Harganya, dan Asli Perajinnya”, APPBI mengajak masyarakat untuk hadir dan bersama-sama mendukung keberlangsungan batik asli Indonesia sebagai warisan budaya yang telah diakui dunia. (Asm)