
Seller Online Mulai Diversifikasi Kanal Penjualan, Website Jadi Kunci Pertumbuhan Bisnis
Lanskap, Jakarta – Dalam beberapa tahun terakhir, marketplace telah memainkan peran besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi digital Indonesia dan membuka akses pasar yang lebih luas bagi jutaan UMKM. Namun seiring perkembangan industri digital yang semakin matang, banyak pelaku usaha kini mulai mengevaluasi kembali strategi kanal penjualan mereka demi menjaga pertumbuhan bisnis yang lebih berkelanjutan.
Menurut laporan VietnamNet yang mengutip data riset e-commerce Metric, jumlah penjual aktif di empat platform besar di Vietnam — Shopee, TikTok Shop, Lazada, dan Tiki — mengalami penurunan lebih dari 7% secara year-on-year, menyisakan sekitar 602.000 toko aktif. Hampir 48.000 penjual tercatat tidak lagi aktif dalam satu tahun terakhir. Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan dinamika bisnis digital di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Di Indonesia sendiri, sepanjang 2025 hingga awal 2026, sejumlah marketplace besar mulai melakukan berbagai penyesuaian biaya layanan bagi seller sebagai bagian dari perkembangan ekosistem digital dan kebutuhan operasional platform. Selain komisi penjualan dan biaya layanan, seller juga menghadapi penyesuaian fee lain yang menjadi bagian dari dinamika industri e-commerce yang terus berkembang. Informasi tersebut disampaikan melalui kanal resmi seller center masing-masing platform dan turut menjadi perhatian berbagai media nasional.
Pada saat yang sama, pemerintah melalui Kementerian Keuangan juga mulai memperkuat tata kelola ekonomi digital melalui kebijakan perpajakan bagi transaksi perdagangan online tertentu di marketplace. Langkah ini dilakukan untuk mendorong terciptanya ekosistem digital yang lebih sehat, tertata, dan berkelanjutan.
Perubahan tersebut memunculkan diskusi baru di kalangan pelaku UMKM dan seller online mengenai pentingnya diversifikasi kanal digital. Banyak pelaku usaha mulai mempertimbangkan pendekatan omnichannel yang tidak hanya mengandalkan marketplace, tetapi juga memperkuat hubungan langsung dengan pelanggan melalui website, media sosial, komunitas, maupun aplikasi pesan instan.
Menurut Indra Hartawan, VP dan Country Manager Exabytes Indonesia, fenomena ini menjadi momentum positif bagi UMKM Indonesia untuk mulai membangun fondasi digital yang lebih kuat dan berkelanjutan.
“Marketplace tetap memiliki peran yang sangat penting dalam membantu UMKM menjangkau pasar yang lebih luas dan mempercepat transformasi digital. Namun di saat yang sama, banyak bisnis kini mulai menyadari pentingnya memiliki kanal digital sendiri sebagai aset jangka panjang. Website memungkinkan bisnis membangun hubungan pelanggan yang lebih personal, memiliki fleksibilitas lebih besar dalam pengembangan brand, serta mengelola data dan pengalaman pelanggan secara lebih optimal,” ujarnya.
Tren serupa juga mulai terlihat secara global. Banyak brand direct-to-consumer (D2C) kini menerapkan strategi yang lebih seimbang dengan mengombinasikan marketplace, website resmi, komunitas pelanggan, email marketing, dan loyalty ecosystem mereka sendiri untuk memperkuat keberlanjutan bisnis. Karena itu, Exabytes Indonesia mendorong pendekatan omnichannel yang lebih sehat bagi UMKM: memanfaatkan marketplace sebagai salah satu kanal akuisisi pelanggan, sambil tetap membangun “rumah digital” sendiri melalui website bisnis sebagai pusat aktivitas digital jangka panjang.
“Website hari ini bukan lagi sekadar company profile. Website telah berkembang menjadi pusat identitas digital bisnis — tempat brand membangun pengalaman pelanggan, komunikasi, transaksi, hingga strategi pertumbuhan jangka panjang,” lanjut Indra.
Sebagai penyedia solusi digital di Indonesia, Exabytes Indonesia menghadirkan berbagai solusi untuk membantu UMKM membangun kehadiran online secara mandiri, mulai dari domain, hosting, website commerce, email bisnis, cloud, hingga integrasi pembayaran digital dan operasional bisnis.
Menurut Indra, transformasi digital UMKM ke depan bukan berarti meninggalkan marketplace, melainkan membangun strategi digital yang lebih seimbang dan berkelanjutan.
“Marketplace dan website bukan untuk dipertentangkan. Keduanya dapat saling melengkapi. Marketplace membantu bisnis menjangkau pasar lebih luas, sementara website membantu bisnis membangun aset digital dan hubungan pelanggan yang lebih kuat untuk jangka panjang,” tutupnya. (Asm)



