
Aksi Nyata Hari Bumi, Warga dan Seniman Bogor Turun Bersihkan Sungai
Lanskap, Jakarta – Pagi itu, hujan turun tanpa henti di sudut Bogor.
Langit seolah ikut menangis… tapi di bantaran Kali Ciliwung, sekelompok orang justru memilih untuk bertahan.
Mereka bukan siapa-siapa.
Bukan pejabat, bukan orang besar.
Hanya warga biasa… yang peduli.
Dengan tangan kosong dan kantong seadanya, satu per satu mereka memunguti sampah yang selama ini dibiarkan menumpuk. Plastik kotor, sisa limbah, dan jejak kelalaian manusia—mereka sentuh tanpa ragu.
Hari itu adalah Hari Bumi 2026.
Tapi bagi mereka, ini bukan sekadar peringatan.
Ini tentang tanggung jawab.
Ini tentang rasa malu… karena bumi terus memberi, tapi manusia terus mengambil.
Di tengah dinginnya hujan, tawa kecil tetap terdengar.
Bukan karena semuanya mudah, tapi karena mereka tahu—
setidaknya hari itu, mereka tidak tinggal diam.
Lalu, di antara lumpur dan aliran air yang keruh, para seniman berdiri.
Mereka tidak membawa alat berat, hanya tubuh dan rasa.
Melalui sebuah pertunjukan sederhana, mereka bercerita…
tentang bumi yang lelah, tentang hutan yang hilang, tentang sungai yang perlahan mati.

Satu kalimat menggema pelan, tapi menghantam dalam:
“Bumi ini cukup untuk semua… tapi tidak untuk keserakahan manusia.”
Tak ada tepuk tangan meriah.
Hanya diam… dan mungkin, hati yang mulai tersadar.
Di akhir kegiatan, mereka makan bersama. Sederhana. Tanpa kemewahan.
Namun di situlah terasa sesuatu yang sering hilang:
Kebersamaan. Kepedulian. Harapan.
Sebelum pulang, mereka berfoto. Bukan untuk gaya, tapi untuk mengingatkan—
bahwa hari itu, mereka pernah berjuang untuk bumi.
Dan satu pesan mereka tinggalkan:
“Satu bumi untuk semua… kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi?” (Ckr03/red)



