Dipuji IMF, Tapi Indonesia Diingatkan: Tanpa Strategi Ini, Ekonomi Bisa Goyah!

Dipuji IMF, Tapi Indonesia Diingatkan: Tanpa Strategi Ini, Ekonomi Bisa Goyah!

Lanskap, Jakarta – Pujian dari Dana Moneter Internasional (IMF) yang menyebut Indonesia sebagai “bright spot” ekonomi dunia bisa jadi terdengar seperti kabar baik.

Tapi jangan terlena.

Di balik sanjungan itu, muncul alarm yang tak banyak dibicarakan: fondasi pertumbuhan Indonesia belum sekuat yang terlihat.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, secara terang-terangan mengingatkan bahwa stabilitas saja tidak akan cukup untuk menyelamatkan ekonomi di tengah tekanan global yang makin ganas.

“Ini bukan lagi soal stabil atau tidak. Ini soal: kita siap atau tidak membiayai masa depan kita sendiri,” tegasnya.

Selama ini, Indonesia dipuji karena disiplin fiskal—defisit dijaga, utang terkendali. Tapi menurutnya, itu hanya “kulit luar”.

Pasar global sekarang ingin melihat isi di dalamnya:
dari mana uang pertumbuhan akan datang?

Tanpa jawaban yang jelas, kepercayaan bisa berubah jadi keraguan.

Dan saat kepercayaan retak, dampaknya bisa brutal.

Masalahnya semakin kompleks. Ketergantungan pada dolar mulai menjadi jebakan mahal. Biaya pendanaan naik, tekanan eksternal makin kuat.

Jika tidak segera mencari alternatif, Indonesia berisiko terjebak dalam pembiayaan mahal yang menggerus daya saing.

Karena itu, Fakhrul mendorong langkah berani: keluar dari pola lama.

Mulai dari diversifikasi sumber pendanaan, memperluas penggunaan mata uang lokal, hingga memanfaatkan peluang seperti offshore renminbi (CNH) untuk menekan biaya transaksi global.

Namun satu hal yang paling krusial—dan sering diabaikan—adalah transparansi.

Investor global tidak lagi cukup diyakinkan dengan angka defisit.

Mereka ingin melihat “peta perang”: strategi pembiayaan, sumber dana, hingga mitigasi risiko jangka panjang.

Tanpa itu, status “bright spot” bisa berubah jadi titik rawan.

Di tengah dunia yang makin terbelah, hanya negara dengan strategi pendanaan jelas yang akan bertahan.

Sisanya? Tersingkir pelan-pelan.

“Stabilitas itu baru permulaan. Kalau tidak diikuti strategi pembiayaan yang kuat, kita hanya sedang menunda masalah,” pungkas Fakhrul.

Pesannya jelas dan keras:
pujian global bisa berubah jadi tekanan kapan saja. (Asm)