Lanskap, Bandung – Manchester United harus mengakhiri petualangan mereka di Piala FA lebih cepat dari harapan. Bermain dominan sepanjang laga, Setan Merah justru tumbang dengan skor 1-2 dari Brighton & Hove Albion—hasil yang terasa pahit karena tak sejalan dengan jalannya pertandingan.
Sejak menit awal, United tampil menguasai permainan. Penguasaan bola mencapai 60 persen, delapan tembakan tepat sasaran dilepaskan, dan enam tendangan sudut berhasil didapatkan. Di atas kertas, angka-angka itu menunjukkan kontrol penuh tuan rumah. Namun, sepak bola tak selalu memberi hadiah pada tim yang mendominasi statistik.
Brighton datang dengan pendekatan berbeda. Mereka bermain lebih disiplin, menunggu momen, dan memaksimalkan setiap peluang yang hadir. Gol pembuka lahir di menit ke-12 lewat Brajan Gruda yang memanfaatkan celah di lini pertahanan United. Tanpa banyak peluang, Brighton justru unggul lebih dulu.
Memasuki babak kedua, situasi tak banyak berubah. United tetap menekan, sementara Brighton bertahan rapi dan efektif saat menyerang. Pola itu kembali membuahkan hasil ketika Danny Welbeck menggandakan keunggulan Brighton pada menit ke-64, sekali lagi lewat serangan yang memanfaatkan ruang kosong di area berbahaya.
Manchester United baru mampu memperkecil ketertinggalan di menit ke-85. Sundulan Benjamin Sesko menyambut umpan Bruno Fernandes dari situasi sepak pojok sempat membangkitkan harapan publik Old Trafford. Sayangnya, waktu yang tersisa terlalu singkat untuk membalikkan keadaan.
Penampilan gemilang kiper Brighton, Jason Steele, menjadi salah satu kunci kemenangan tim tamu. Ia mencatat tujuh penyelamatan penting, termasuk menepis peluang emas Harry Maguire di masa tambahan waktu. Di sisi lain, United hanya mencatat satu penyelamatan di bawah mistar—sebuah gambaran betapa mahalnya kesalahan kecil dalam laga knockout.
Kekalahan ini kembali menyoroti persoalan klasik Manchester United: dominasi permainan yang tak dibarengi efektivitas. Piala FA, yang sempat dianggap sebagai salah satu jalur realistis menuju trofi musim ini, kini resmi tertutup. Pekerjaan rumah soal konsistensi, ketajaman, dan pengambilan keputusan kembali jadi sorotan besar. (Acil)



