Lanskap, Bogor – Lingkar diskusi Sawala Dasa Wacana edisi ke-9 kembali digelar dengan mengusung tema “Quo Vadis Gerakan Pemuda Bogor dan Kontribusinya terhadap Pembangunan Daerah.” Forum ini menghadirkan sejumlah tokoh muda Bogor Raya untuk membahas peran strategis pemuda dalam pembangunan.
Kegiatan rutin yang diselenggarakan setiap tanggal 10 ini berlangsung pada Selasa (10/2/2026) di Kompleks Edukasi Putra Bangsa, Kampung Pasirangin, Kecamatan Cijeruk. Acara yang digagas Daya Putra Bangsa tersebut dihadiri sekitar 20 peserta dari berbagai organisasi, di antaranya KPP, Damas, Trasa Ningrasa, Yapaba, serta OSIS SMK Sirojul Huda 3.
Meski diguyur hujan, diskusi yang dimulai sekira pukul 14.00 WIB tetap berjalan dinamis dan kritis. Para peserta membedah realitas gerakan kaum muda di Kota dan Kabupaten Bogor (Bogor Raya), sekaligus memperluas perspektif tentang pentingnya kolaborasi lintas komunitas untuk mendorong pembangunan daerah yang layak huni dan manusiawi.
Heri Cokro selaku tuan rumah Sawala menegaskan bahwa pemuda memiliki tanggung jawab sebagai agent of change, social control, dan moral force (Tri Peran Pemuda). Menurutnya, peran tersebut dapat diwujudkan melalui partisipasi sosial, advokasi kebijakan, pelestarian budaya, penguatan ekonomi kreatif, hingga aksi kolektif seperti unjuk rasa jika diperlukan.
“Dinamika kritis kaum muda di Bogor menunjukkan meningkatnya kesadaran sosial-politik generasi muda. Namun perlu dikaji sejauh mana aksi tersebut berkontribusi konstruktif terhadap pembangunan daerah dan transformasi sosial jangka panjang. Mau tidak mau, wajah Bogor masa depan ada di tangan pemuda,” ujarnya saat membuka diskusi.
Pembicara pertama, Beni Sitepu, Ketua Komunitas Pemuda Peduli (KPP) Bogor Raya, menyoroti sejumlah proyek pembangunan yang dinilai belum optimal. Ia mencontohkan infrastruktur jalan yang cepat rusak serta proyek penggalian yang kurang tertata.
Menurutnya, penggunaan anggaran publik harus dikawal secara kritis oleh masyarakat, termasuk pemuda. “Jika kaum muda tidak peduli pada realitas ini, siapa lagi yang akan bersuara? Perlu kebersamaan antarorganisasi kepemudaan untuk mengawal ketimpangan dan memastikan transparansi,” tegasnya.
Sementara itu, Yulia Nasari dari Daya Mahasiswa Sunda (Damas) menekankan pentingnya peran pemuda sebagai penjaga nilai-nilai kearifan lokal. Ia mengingatkan bahwa pembangunan tidak semata soal fisik dan infrastruktur, tetapi juga pembangunan karakter dan jati diri.
“Pembangunan sejati adalah membangun manusia yang berintegritas. Nilai-nilai kasundaan, kebanggaan sejarah, dan karakter manusia Sunda paripurna perlu diperkuat, termasuk melalui pendidikan lokal yang lebih terarah,” jelasnya.
Pandangan serupa disampaikan Andri Fadillah Alamsyah, Sekretaris Umum HMI Cabang Kota Bogor. Ia menilai pemuda sebagai pelopor perubahan harus mempersiapkan diri menyongsong estafet kepemimpinan.
“Pemuda hari ini adalah pemimpin esok hari. Karena itu, penting untuk terus mengasah diri, meningkatkan literasi dan kompetensi, serta tetap menghargai capaian generasi sebelumnya agar tidak kehilangan arah,” katanya.
Diskusi juga diwarnai sesi tanya jawab dan berbagi gagasan dari peserta, termasuk Rani, siswa kelas XI SMK Sirojul Huda 3, serta Naryana Indra yang mewakili generasi senior dengan pandangan kritisnya.
Menjelang pukul 17.00 WIB, forum ditutup dengan kesepahaman untuk memperkuat jejaring dan kolaborasi pemuda di berbagai lini. Para peserta sepakat mendorong peran aktif, kritis, dan kontribusi nyata dalam membangun diri serta lingkungan demi kehidupan yang lebih layak, sejahtera, dan manusiawi. (Ckr03)



